Rumor itu akhirnya terbukti. Ajax Amsterdam secara resmi mengumumkan perekrutan kiper Timnas Indonesia, Maarten Paes, dari FC Dallas. Kontraknya berlaku langsung, mengikat sang penjaga gawang berusia 27 tahun itu hingga musim panas 2029.
Dalam pernyataan resminya, klub asal Belanda itu menyatakan, "Ajax, FC Dallas, dan Maarten Paes telah mencapai kesepakatan mengenai transfer langsung sang penjaga gawang ke Ajax. Kiper berusia 27 tahun itu menandatangani kontrak hingga 30 Juni 2029."
Gosip tentang ketertarikan Ajax sebenarnya sudah berembus kencang selama seminggu terakhir. Bahkan, Paes sendiri terlihat hadir langsung di stadion untuk menyaksikan Ajax menjamu Excelsior Rotterdam, awal Februari lalu. Malam tadi, klub pun akhirnya meresmikan kedatangannya, tak lama setelah mereka memperkenalkan Oleksandr Zinchenko.
Lalu, apa yang membawa Paes ke Amsterdam? Banyak yang menduga, ada tangan-tangan familiar di balik layar. Sosok seperti Jordi Cruyff dan Denny Landzaat, yang dulu pernah bekerja sama dengannya di Timnas Indonesia, disebut-sebut punya andil. Pengaruh mereka mungkin saja membuka pintu negosiasi.
Bagi para penggemar sepak bola Indonesia, ini tentu kabar yang menyenangkan. Bagaimanapun, Ajax bukan klub sembarangan. Mereka adalah raksasa dengan 36 gelar juara liga, sebuah institusi yang punya sejarah panjang dan prestise tinggi di Belanda.
Adaptasi menjadi tantangan berikutnya. Namun begitu, seharusnya Paes tidak akan terlalu kesulitan. Dia kan asli Nijmegen, Belanda. Karirnya juga dimulai dan sempat bersinar di tanah kelahirannya, lewat klub-klub seperti NEC Nijmegen dan FC Utrecht. Lingkungan dan budaya sepak bola Belanda bukanlah hal yang asing baginya.
Hal menarik lain dari Paes adalah popularitasnya di dunia digital. Begitu resmi bergabung, dia langsung tercatat sebagai salah satu pemain Ajax dengan pengikut media sosial terbanyak. Angkanya cukup fantastis: lebih dari 100 ribu subscriber YouTube, 2,3 juta pengikut Instagram, dan dua juta lagi di TikTok.
Tapi, di balik gelar "raja media sosial" itu, Paes punya ritual unik untuk menjaga fokusnya.
"Dua hari sebelum pertandingan, saya biasa menghapus aplikasi media sosial di handphone saya. Sebab, saya ingin fokus ke pertandingan," ujarnya saat sesi perkenalan.
Sebuah langkah bijak di era yang serba terhubung ini. Kini, tantangan sebenarnya tinggal menunggu: membuktikan diri di antara tiang gawang Johan Cruijff ArenA.
Artikel Terkait
Pertamina, Vivo, dan BP Serempak Naikkan Harga BBM Non-Subsidi di Awal Bulan
Trump: Pasukan AS Tembak Tujuh Kapal Cepat Iran di Selat Hormuz, Iran Balas Serang Kapal Perang dan Infrastruktur Minyak UEA
Presiden Prabowo Hadiri KTT ke-48 ASEAN di Filipina, Bahas Dampak Konflik Iran-AS terhadap Ketahanan Energi
Hantavirus di Kapal Pesiar Atlantik: Bukan Ancaman Pandemi, Tapi Risiko Lingkungan yang Perlu Diwaspadai