Dua tahun belakangan, arah industri otomotif kita berubah dengan cepat. Kalau dulu kendaraan listrik cuma dianggap produk niche, sekarang mereka sudah merangsek ke arus utama. Struktur pasarnya pun mulai berubah.
Data Gaikindo per November 2025 menunjukkan angka yang cukup mengejutkan. Penetrasi EV di pasar domestik melonjak drastis. Dari cuma 2–3 persen di 2023, naik jadi 5 persen setahun setelahnya. Nah, yang menarik, di penghujung 2025 angkanya sudah menembus sekitar 13 persen. Bisa dibilang, dalam dua tahun pertumbuhannya lebih dari empat kali lipat.
Padahal, tahun 2025 sendiri penuh tekanan. Daya beli masyarakat sedang diuji, belum lagi ketidakpastian ekonomi global yang bikin banyak sektor ketar-ketir. Tapi di tengah semua itu, justru kendaraan ramah lingkungan ini yang tumbuh paling agresif. Mereka jadi motor penggerak baru.
Momentumnya benar-benar terasa di kuartal akhir tahun. Pada bulan Oktober dan November saja, penjualan kendaraan listrik menyentuh angka 13 ribu unit. Itu setara dengan 18 persen dari total penjualan nasional! Fase barunya jelas: EV kini bukan lagi pendukung, tapi sudah jadi kontributor utama volume pasar.
Menurut pengamat otomotif sekaligus Pakar Desain Produk ITB, Yannes Martinus Pasaribu, pergeseran ini punya dasar yang kuat.
“Lonjakan penetrasi EV hingga 12 persen menjelang akhir 2025 bukan sekadar angka. Ini sinyal bahwa pasar sudah terbentuk dan tidak lagi bergantung penuh pada insentif,” katanya pada Senin, 29 Desember 2025.
Yannes melihat tren elektrifikasi di Tanah Air sedang menuju ke arah yang positif.
“Pergeseran ini diperkuat oleh insentif fiskal, model bisnis yang makin kompetitif, serta meningkatnya kesadaran total cost of ownership jangka panjang. Apalagi di kalangan konsumen urban yang rasional dan melek teknologi,” lanjutnya.
Yang menarik, pertumbuhan EV ini justru ditopang oleh segmen harga yang selama ini jadi tulang punggung pasar. EV dengan banderol Rp 200–400 juta tercatat sebagai kontributor terbesar kenaikan penetrasi.
“Jangan lupa, pasar EV terbesar yang mendorong kenaikan persentase ini justru berada di kelas harga Rp 200–400 juta. Ini kan kelas pasar terbesar Indonesia yang beririsan langsung dengan LCGC,” jelas Yannes.
Dengan adanya pilihan antara LCGC dan EV yang harganya mulai bersaing, masyarakat punya alternatif baru. Lagipula, EV di kisaran harga itu biasanya sudah dibekali teknologi canggih dan desain yang terkesan futuristik.
Di tengah gelombang ini, BYD mencatatkan prestasi yang luar biasa. Sepanjang 2025, mereka berhasil menjual 54 ribu unit mobil listrik di Indonesia. Angka yang cukup fantastis.
General Manager Asia Pacific Sales BYD Auto, Liu Xueliang, menyebut pencapaian itu bukti nyata tingginya kepercayaan konsumen. Apalagi, ini terjadi sebelum perusahaan memulai produksi lokal secara permanen di Subang.
Keberhasilan itu tentu tak lepas dari ekspansi jaringan yang agresif. Hingga akhir 2025, lebih dari 80 diler BYD sudah beroperasi di seluruh Indonesia, mendekatkan layanan kepada pelanggan.
Beberapa model menjadi pilihan favorit. BYD Atto 1, M6, dan Sealion 7 tercatat paling diminati. Tak ketinggalan, merek premium mereka, Denza, juga dapat sambutan hangat lewat model Denza D9. Sejak diluncurkan awal 2025, lebih dari 10 ribu unit sudah dipesan. Strategi model yang tepat sasaran ini rupanya berhasil.
Pencapaian di Indonesia ini sejalan dengan momentum global BYD. Di tahun yang sama, mereka mendistribusikan 4,6 juta unit kendaraan ke seluruh dunia, dengan 1 juta unit di antaranya untuk ekspor. Di Asia Tenggara, BYD bahkan jadi merek nomor satu di Singapura dan punya penjualan signifikan di Thailand. Kesuksesan regional ini jelas memperkuat posisi mereka di pasar domestik.
Menyambut 2026 dengan Strategi Baru
Optimisme BYD terhadap pasar Indonesia makin menguat. Lihat saja, penetrasi kendaraan listrik sudah lewat 13 persen di 2025. Capaian yang dinilai sangat positif, bahkan untuk standar ASEAN sekalipun.
Liu Xueliang melihat kematangan pasar ini sebagai dasar yang kuat. Karena itu, perusahaan berencana menghadirkan lebih banyak model baru pada 2026.
Diversifikasi teknologi akan jadi strategi utama. Dengan portofolio teknologi New Energy Vehicle (NEV) yang lengkap di hampir setiap segmen, BYD ingin menawarkan solusi yang lebih beragam. Intinya, pilihan untuk konsumen akan semakin luas.
Artikel Terkait
Indonesia Tuan Rumah Kualifikasi U-12 Junior Soccer World Challenge 2026, Jadi Peluang Emas Akademi dan SSB
LPSK Turun Tangan Tangani Kasus Kekerasan di Daycare Little Aresha Yogyakarta, 13 Permohonan Perlindungan Masuk
Roy Suryo Pamerkan Amplop Berisi Uang Pemberian Rismon Sianipar di Acara TV
Topi Merah Terima Somasi Kedua dari Ahli Forensik Rismon soal Klaim Kejanggalan Ijazah Jokowi