BI Resmi Gabung Proyek Nexus, Genjot Pembayaran Lintas Negara

- Selasa, 03 Februari 2026 | 07:20 WIB
BI Resmi Gabung Proyek Nexus, Genjot Pembayaran Lintas Negara

Bank Indonesia akhirnya memutuskan untuk ikut serta dalam proyek Nexus. Ini bukan langkah kecil. Proyek yang digagas Bank for International Settlements (BIS) itu bertujuan menghubungkan sistem pembayaran instan di berbagai negara, dan BI kini resmi menjadi bagiannya.

Mereka akan bekerja sama dengan lima bank sentral lain untuk mempersiapkan dan menjalankannya. Mitranya antara lain Bank Negara Malaysia, Bangko Sentral ng Pilipinas, Monetary Authority of Singapore, Bank of Thailand, dan Reserve Bank of India. Kerja sama regional ini jelas punya tujuan yang besar.

Gubernur BI Perry Warjiyo menjelaskan alasan di balik keputusan ini.

"Keikutsertaan Indonesia dalam Nexus merupakan langkah strategis untuk menyediakan solusi pembayaran antarnegara yang efisien dan terjangkau bagi masyarakat dan pelaku usaha di Indonesia," ujarnya, Selasa (3/2/2026).

Dia lantas menambahkan satu poin penting: posisi Indonesia sebagai salah satu koridor remitansi terbesar dunia. Baik sebagai pengirim maupun penerima, volume transaksi lintas negaranya sangat signifikan. Nah, dengan kondisi seperti itu, sistem yang lebih lancar dan murah tentu sangat dibutuhkan.

Di sisi lain, manfaatnya juga dirasakan akan lebih luas. Keterhubungan pembayaran yang tanpa hambatan diprediksi bakal menggenjot hubungan ekonomi dan perdagangan Indonesia dengan negara-negara tetangga.

Proyek Nexus sendiri sebenarnya sudah berjalan sejak 2021. Tapi tahun 2025 lalu, proyek ini memasuki babak baru dengan berdirinya Nexus Global Payments (NGP). BI yang sebelumnya cuma jadi pengamat khusus, kini memantapkan komitmen sebagai anggota penuh. Tugas selanjutnya? Mengembangkan sistem pembayaran instan domestik, BI-FAST, agar bisa tersambung dengan jaringan Nexus.

Kalau interkoneksi ini berhasil, dampaknya bisa langsung dirasakan. Transaksi lintas negara diharapkan jadi lebih efisien, biayanya turun, dan inklusi keuangan makin kuat. Yang menarik, BI menegaskan bahwa semua ini dilakukan dengan tetap menjaga kedaulatan nasional. Proses kliring dan setelmen untuk transaksi dalam negeri akan tetap dilakukan di dalam negeri, tidak keluar.

Langkah ini bukan muncul tiba-tiba. Ia merupakan bagian dari implementasi Blueprint Sistem Pembayaran Indonesia 2030. Sekaligus sejalan dengan semangat konektivitas pembayaran regional ASEAN yang dicanangkan dua tahun silam.

Harapannya jelas. Pembayaran antarnegara yang lebih mudah dan murah pada akhirnya bisa jadi motor penggerak pertumbuhan ekonomi, memperluas akses keuangan, dan mendukung pembangunan yang berkelanjutan. Sinergi antara BI dan NGP ini juga mendukung agenda reformasi G20 di bidang pembayaran lintas negara.

Jadi, langkah BI ini lebih dari sekadar gabung proyek baru. Ini adalah investasi untuk infrastruktur keuangan masa depan Indonesia di panggung global.

Editor: Lia Putri

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar