Proyek Nexus sendiri sebenarnya sudah berjalan sejak 2021. Tapi tahun 2025 lalu, proyek ini memasuki babak baru dengan berdirinya Nexus Global Payments (NGP). BI yang sebelumnya cuma jadi pengamat khusus, kini memantapkan komitmen sebagai anggota penuh. Tugas selanjutnya? Mengembangkan sistem pembayaran instan domestik, BI-FAST, agar bisa tersambung dengan jaringan Nexus.
Kalau interkoneksi ini berhasil, dampaknya bisa langsung dirasakan. Transaksi lintas negara diharapkan jadi lebih efisien, biayanya turun, dan inklusi keuangan makin kuat. Yang menarik, BI menegaskan bahwa semua ini dilakukan dengan tetap menjaga kedaulatan nasional. Proses kliring dan setelmen untuk transaksi dalam negeri akan tetap dilakukan di dalam negeri, tidak keluar.
Langkah ini bukan muncul tiba-tiba. Ia merupakan bagian dari implementasi Blueprint Sistem Pembayaran Indonesia 2030. Sekaligus sejalan dengan semangat konektivitas pembayaran regional ASEAN yang dicanangkan dua tahun silam.
Harapannya jelas. Pembayaran antarnegara yang lebih mudah dan murah pada akhirnya bisa jadi motor penggerak pertumbuhan ekonomi, memperluas akses keuangan, dan mendukung pembangunan yang berkelanjutan. Sinergi antara BI dan NGP ini juga mendukung agenda reformasi G20 di bidang pembayaran lintas negara.
Jadi, langkah BI ini lebih dari sekadar gabung proyek baru. Ini adalah investasi untuk infrastruktur keuangan masa depan Indonesia di panggung global.
Artikel Terkait
Gempa Dangkal M 4,1 Guncang Bener Meriah di Pagi Buta
Kolaborasi BRI dan BP Batam Pacu Investasi dan Daya Saing UMKM
Ekspor Batu Bara Anjlok, Sawit dan Besi Baja Jadi Penyelamat di 2025
JK: Forum Perdamaian Gaza Trump Bisa Jadi Jalan Hentikan Perang