Ketika Ibadah Hanya di Langit, Bumi Merintih di Bawah Kaki

- Senin, 12 Januari 2026 | 15:30 WIB
Ketika Ibadah Hanya di Langit, Bumi Merintih di Bawah Kaki

Rumah-rumah kecil terendam, jalan-jalan lenyap ditelan tanah, sungai berubah pekat dan bau. Udara terasa panas tanpa ampun. Kita sering bertanya, kenapa alam begini? Tapi mungkin pertanyaan yang lebih tepat: sejak kapan kita berhenti beradab padanya? Kapan persisnya kita mulai memperlakukan hutan, sungai, dan laut layaknya benda mati bisa dipaksa, diperas, lalu ditinggalkan begitu saja? Rasanya, kita sudah terlalu lama memuaskan nafsu serakah tanpa memikirkan tanggung jawab.

Nah, krisis ekologi yang kita hadapi ini sebenarnya bukan cuma soal teknologi atau dana. Akarnya lebih dalam. Ini soal krisis di dalam hati kita sendiri. Cara kita memandang Tuhan, amanah, dan kehidupan. Orang yang punya rasa takut pada Sang Pencipta, biasanya akan malu merusak ciptaan-Nya.

Para sufi sejak dulu sudah mengingatkan: alam ini hidup. Bahkan dalam kitab suci, alam pun bertasbih. Ia adalah cermin dari tanda-tanda kekuasaan-Nya. Coba lihat laut, ia mengajarkan keluasan dan kesabaran. Sungai menunjukkan keikhlasan, mengalir memberi tanpa perlu pujian. Bunga-bunga punya keindahan yang tak mencari panggung. Semuanya mengajarkan tentang keseimbangan.

Namun begitu, kenyataan hari ini sungguh berbeda. Banyak dari kita, termasuk yang punya kuasa, memperlakukan alam bukan sebagai ayat suci, tapi sebagai lahan transaksi belaka. Polanya berulang: izin gampang keluar, terutama untuk kawasan yang seharusnya dilindungi. Hutan di hulu, yang mestinya jadi penahan air, malah dibelah untuk konsesi. Pegunungan, benteng resapan air, ditatah jadi tambang. Semua demi kejar setoran, uang yang harus cepat berputar.

Permainannya kadang terlihat rapi. Dokumen lengkap, rapat-rapat diadakan, konsultasi publik seolah jalan. Tapi coba tanya warga di lapangan. Mereka yang paling terdampak sering cuma jadi penonton. AMDAL dilangkahi, keberatan warga dianggap ganggu, suara ahli dipilah-pilih yang menguntungkan. Bahkan lebih parah lagi, aktivis dan warga yang bersuara kerap dibungkam. Dicap menghambat pembangunan, atau dibuat susah dengan berbagai cara.

Akibatnya, "dosa ekologis" seperti sudah jadi hal biasa. Hutan habis, banjir bandang disebut takdir. Sungai penuh limbah, warga disuruh sabar saat gatal-gatal. Mangrove ditebang untuk beton, abrasi pun merampas rumah nelayan. Vila-vila berdiri di kawasan hijau, lalu longsor datang bak tamu yang diundang.

Lahan gambut dikeringkan, kebakaran datang tiap tahun layaknya rutinitas. Ini bukan cuma salah teknis, lho. Seringnya, ini soal moral yang bobrok. Saat kuasa dipakai untuk menguntungkan segelintir orang dengan mengorbankan hidup banyak orang, itu namanya ketidakadilan. Bahkan pengkhianatan amanah.

Banjir dan longsor itu bukan alam yang marah. Alam tak punya dendam. Ia cuma menunjukkan akibat. Tanah tanpa akar pasti runtuh. Sungai yang disempitkan dan dikotori akan meluap. Hutan yang disayat kehilangan kemampuan jaga iklim. Bencana adalah bahasa sunyi yang berseru, "Keseimbanganmu sudah kau langgar!"

Yang menyedihkan, di tengah semua luka ini, rumah ibadah tetap ramai. Zikir dan doa terdengar. Tapi kadang, rasanya cinta pada Tuhan cuma berhenti di langit, tak pernah turun menyentuh tanah. Kesalehan jadi urusan ritual pribadi, tanpa keberanian mengoreksi cara kita memperlakukan ciptaan-Nya. Padahal, para sufi bilang dengan tegas: cinta kepada Allah yang sejati pasti melahirkan kasih pada makhluk-Nya. Mustahil seseorang memuji Tuhan siang-malam, tapi tangannya ikut merusak hutan atau diam saat sungai dicemari.

Di titik inilah kita harus jujur. Suara para penceramah, ustaz, dan tokoh agama tentang akhlak lingkungan masih terlalu sayup. Ceramah tentang ibadah personal dan halal-haram makanan begitu nyaring. Tapi begitu masuk soal hutan, tambang, sampah, atau kebijakan rusak, banyak mimbar mendadak sunyi. Seolah merawat bumi bukan urusan iman. Seolah merusak lingkungan bukan dosa yang perlu ditangisi.

Padahal, umat butuh panduan yang jelas. Bahwa buang sampah sembarangan adalah kezaliman kolektif. Bahkan menyetujui proyek yang menghancurkan ruang hidup warga adalah pengkhianatan. Menggunduli hutan demi citra pembangunan tetaplah keliru, meski dibungkus kata "kemajuan". Kalau mimbar-mimbar, majelis taklim, dan ruang dakwah tak berani sentuh ini, lalu dari mana umat dapat kompas akhlak untuk lingkungan?

Pesan untuk para pemegang kuasa, di level mana pun, sebenarnya sederhana. Kekuasaan itu bukan karpet untuk menginjak-injak penderitaan alam. Ia adalah amanah yang kelak dipertanyakan. Legal di atas kertas belum tentu sah di mata moral. Banyak proyek yang "menguntungkan" hari ini, tapi meninggalkan bencana untuk puluhan tahun ke depan.

Kita masih bisa berubah, kok. Asal mau mulai dari arah yang benar. Perlu ada taubat ekologis. Bukan cuma istighfar di bibir, tapi perubahan nyata. Butuh pemimpin yang berani bilang "tidak" pada izin merusak, meski dapat tekanan. Aparat harusnya melindungi hutan dan sungai, bukan melindungi pelanggarnya.

Jika kita kembali memandang alam sebagai "ayat yang hidup", maka pohon tumbang bukan sekadar angka di laporan. Ia akan terasa seperti kehilangan. Sungai tercemar bukan cuma berita, tapi luka yang perih. Dari kepekaan itulah, keberanian akan lahir. Keberanian untuk menghentikan perusakan dan memulai penyembuhan. Karena pada akhirnya, bumi tak butuh kita. Kitalah yang butuh bumi. Dan lebih dalam lagi, iman kita butuh pembuktian bukan cuma di sajadah, tapi juga dalam cara kita menjaga amanah Tuhan yang bernama alam ini.

Editor: Novita Rachma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar