Pertamina Menanggung Beban Rp60 Triliun per Bulan Akibat Harga BBM yang Ditahan

- Senin, 13 April 2026 | 15:00 WIB
Pertamina Menanggung Beban Rp60 Triliun per Bulan Akibat Harga BBM yang Ditahan

Harga minyak dunia terus merangkak naik, tapi di dalam negeri, harga BBM masih dipegang erat. Keputusan pemerintah untuk menahan harga ini memang disambut baik masyarakat. Namun, di balik itu, ada beban berat yang kini bergeser ke pundak Pertamina. Beban fiskal yang tadinya mungkin ditanggung APBN, kini berpotensi membebani arus kas perusahaan pelat merah itu.

Komaidi Notonegoro dari ReforMiner Institute melihat kebijakan ini punya dua sisi. Di satu sisi, daya beli masyarakat terjaga. Tapi di sisi lain, kesehatan keuangan Pertamina bisa terancam. "Nah, berapa bulan lagi mereka (Pertamina) tahan dengan cash-flow yang ada?" tanyanya. Kekhawatirannya bukan tanpa alasan.

Dengan ketegangan geopolitik yang mendorong harga minyak mentah, selisih antara harga jual eceran dan harga keekonomian BBM kian melebar. Komaidi menghitung, dengan kurs Rp16.500 per dolar AS, selisihnya bisa mencapai Rp5.000 sampai Rp9.000 per liter. Angka yang tidak main-main.

Bayangkan, konsumsi BBM nasional kita sekitar 80 juta kiloliter per tahun. Pangsa pasar Pertamina mendominasi, sekitar 88-90 persen. Dengan kondisi seperti ini, beban yang harus ditanggung perusahaan bisa membengkak luar biasa. Perhitungan kasar menunjukkan, Pertamina berpotensi menalangi Rp1,5 hingga Rp2 triliun... per hari. Itu setara dengan Rp60 triliun sebulan.

Tekanannya makin berat kalau harga minyak dunia terus naik dan rupiah melemah. Meski ada harapan dari potensi gencatan senjata AS-Iran, fluktuasi nilai tukar tetap jadi momok. "Kalau sampai stabil di 17.000, sementara asumsi kita kan 16.500, nah ini kan cukup besar juga selisihnya," ujar Komaidi. Kombinasi kedua faktor itu bisa mempercepat tekanan pada kas Pertamina.

APBN Juga Bisa Terimbas

Kekhawatiran serupa datang dari ekonom UI, Dipo Satria Ramli. Ia melihat risiko ini tak cuma untuk Pertamina, tapi juga APBN. Menurut proyeksinya, jika harga minyak mencapai 105 dolar AS per barel dan rupiah melemah ke Rp17.000, defisit APBN bisa melebar hingga 3,6% dari PDB.

Editor: Lia Putri


Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar