Islah Bahrawi Kritik Kebijakan Prabowo yang Dinilai Jauh dari Janji dalam Buku Paradoks Indonesia

- Senin, 13 April 2026 | 15:00 WIB
Islah Bahrawi Kritik Kebijakan Prabowo yang Dinilai Jauh dari Janji dalam Buku Paradoks Indonesia

Islah Bahrawi, tokoh asal Madura, punya alasan kuat di balik kritik pedasnya terhadap Presiden Prabowo. Ia sadar, belakangan ini banyak yang menyerangnya karena ia kerap menyoroti kebijakan pemerintah yang dinilainya belum tepat.

“Kebenaran itu nggak bisa ditawar-tawar,” tegas Islah dalam perbincangannya dengan beberapa media, termasuk dalam program Ruang Sahabat di kanal YouTube Mahfud MD Official, Sabtu lalu.

“Sekarang ini banyak orang malah menyerang saya, juga teman-teman lain seperti Prof Saiful Mujani. Menyerang siapa saja yang tampil di Komunitas Utan Kayu beberapa waktu lalu,” tambahnya.

Namun begitu, apa yang ia sampaikan itu dianggapnya harus tetap disuarakan. Menurut Islah, siapa pun yang membaca buku “Paradoks Indonesia” akan mudah membandingkan sikap dan janji Prabowo sebelum jadi presiden dengan kenyataan yang terjadi sekarang.

“Idealisme Prabowo tentang Indonesia yang tertuang di buku itu, kalau dibandingkan dengan kondisi hari ini, jadinya anomali semua. Paradoks yang malah melahirkan paradoks baru,” ujarnya.

Ia memberi contoh, Prabowo sering mengutip ekonom Ricardo Hausmann di masa lalu, tapi praktiknya tak terlihat sekarang. Padahal, hal-hal seperti itulah yang dulu diprotes Prabowo sendiri di era pemerintahan Jokowi.

Karena itulah, keresahan itu harus disampaikan sekarang tepat saat Prabowo berkuasa. Menurut Islah, mustahil mengkritik dengan cara dibungkus-bungkus atau tanpa menyebut namanya. Tujuannya jelas: agar Prabowo mendengar.

“Masa kita harus ganti nama Prabowo jadi ‘Fulan’? Kritik ini harus sampai, dan Prabowo harus dengar. Bahwa posisinya sekarang beda dengan ketika ia hanya melihat Indonesia dari luar. Itu yang perlu disuarakan, dan saya yakin ini benar,” tegas Islah.

Di sisi lain, ia mengingatkan bahwa banyak teori demokrasi yang menunjukkan Indonesia sedang mengalami kemunduran. Dari soal penegakan hukum sampai mekanisme check and balance. Hal-hal seperti ini, katanya, tak boleh didiamkan saja.

Islah sendiri mengaku tak terlalu ambil pusing dengan kelompok-kelompok yang merasa paling menang, anti kritik, dan gemar menyerangnya. Termasuk yang melabelinya sebagai “kelompok sakit hati” karena kalah di Pilpres 2024.

“Banyak yang tahu saya dulu mendukung Pak Mahfud. Tapi, pertama kali Prabowo dilantik, saya pernah di podcast Andini Efendi dan juga menulis di media online. Saya bilang kita harus dukung. Prabowo harus didukung karena ini keputusan kolektif hasil pemilu,” jelasnya.

Sebagai pembaca “Paradoks Indonesia”, Islah sebenarnya ingin tetap optimis. Tapi kenyataan hari ini, menurutnya, justru menjadi anomali dari isi buku tersebut.

Itulah yang membuat berbagai tudingan seperti barisan sakit hati atau pihak kalah terasa tak bermakna baginya. Ia malah meyakini, banyak pendukung Prabowo yang sebenarnya juga kecewa.

“Saya kira yang mendukung Pak Prabowo pun banyak yang sakit hati. Kecuali mungkin mereka yang punya ‘dapur MBG’, itu kelas sosial baru yang diciptakan dalam sebuah sistem totaliter,” pungkas Islah.

Editor: Agus Setiawan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar