Perhatian publik langsung tersedot ke Sekolah Rakyat, inisiatif Presiden Prabowo Subianto yang baru saja diresmikan Senin (12/1). Salah satu pemicunya? Sistem tes potensi siswa yang mengandalkan teknologi kecerdasan buatan dengan standar global. Uniknya, sekolah ini sama sekali tidak mengandalkan tes akademik biasa.
Nah, untuk mengisi celah itu, Kemensos selaku pelaksana memilih solusi yang cukup strategis: tes berbasis AI. Tujuannya jelas, memetakan calon siswa yang punya bakat terpendam.
Suasana di Sekolah Rakyat Terintegrasi Banjarbaru, Kalimantan Selatan, saat itu memang menggugah. Dr. (H.C) Ary Ginanjar Agustian, pendiri ESQ dan penggagas DNA Talent, berdiri di hadapan ratusan siswa.
“Siapa yang merasa sukses angkat tangan!” serunya.
Tanpa ragu, tangan-tangan dari siswa yang datang dari berbagai penjuru Jakarta, Aceh, Makassar, Jayapura, dan banyak kota lain teracung tinggi. Melihat antusiasme itu, Ary Ginanjar pun yakin. Tujuan tes DNA Talent, katanya, berhasil diraih.
“(Sekolah Rakyat) Ini adalah sekolah pertama dan satu-satunya di Indonesia dan dunia yang kemampuan siswanya diukur kognisi dan bakat lainnya. Ini semua anak-anak jenius sesuai kecerdasan masing-masing. Ini bisa menjadi percontohan di Indonesia dan dunia,” urai Ary Ginanjar.
Dukungan juga datang dari Mensos Saifullah Yusuf atau Gus Ipul. Saat melapor ke Presiden Prabowo, dia mengapresiasi penerapan tes ini.
“Karena tidak ada tes akademik di Sekolah Rakyat, maka kami melakukan Tes DNA Talent berbasis teknologi artificial intelligence (AI) untuk memetakan potensi siswa. Untuk pertama kali ini, kami berterima kasih kepada Pak Ary Ginanjar yang telah mendukung dan menyediakan Tes DNA Talent,” ujar Gus Ipul.
Menurut Gus Ipul, tes ini memungkinkan pemetaan yang objektif dan komprehensif. Hasilnya? Potensi siswa ternyata sangat beragam.
Artikel Terkait
Prabowo Sebut Semua Masalah Indonesia dari A sampai Z Berasal dari Kekuatan Asing
Bulan K3 Nasional: Antara Seremoni dan Nyawa yang Terabaikan
Hakim Pilih Pengawasan, Laras Faizati Bebas dari Jerat Penjara
APINDO dan KSPSI Desak Perombakan Regulasi, Impor Jadi Dikritik Habis