Sekolah Rakyat Guncang Dunia Pendidikan, Tes AI Gantikan Ujian Akademik

- Kamis, 15 Januari 2026 | 11:42 WIB
Sekolah Rakyat Guncang Dunia Pendidikan, Tes AI Gantikan Ujian Akademik

Perhatian publik langsung tersedot ke Sekolah Rakyat, inisiatif Presiden Prabowo Subianto yang baru saja diresmikan Senin (12/1). Salah satu pemicunya? Sistem tes potensi siswa yang mengandalkan teknologi kecerdasan buatan dengan standar global. Uniknya, sekolah ini sama sekali tidak mengandalkan tes akademik biasa.

Nah, untuk mengisi celah itu, Kemensos selaku pelaksana memilih solusi yang cukup strategis: tes berbasis AI. Tujuannya jelas, memetakan calon siswa yang punya bakat terpendam.

Suasana di Sekolah Rakyat Terintegrasi Banjarbaru, Kalimantan Selatan, saat itu memang menggugah. Dr. (H.C) Ary Ginanjar Agustian, pendiri ESQ dan penggagas DNA Talent, berdiri di hadapan ratusan siswa.

“Siapa yang merasa sukses angkat tangan!” serunya.

Tanpa ragu, tangan-tangan dari siswa yang datang dari berbagai penjuru Jakarta, Aceh, Makassar, Jayapura, dan banyak kota lain teracung tinggi. Melihat antusiasme itu, Ary Ginanjar pun yakin. Tujuan tes DNA Talent, katanya, berhasil diraih.

“(Sekolah Rakyat) Ini adalah sekolah pertama dan satu-satunya di Indonesia dan dunia yang kemampuan siswanya diukur kognisi dan bakat lainnya. Ini semua anak-anak jenius sesuai kecerdasan masing-masing. Ini bisa menjadi percontohan di Indonesia dan dunia,” urai Ary Ginanjar.

Dukungan juga datang dari Mensos Saifullah Yusuf atau Gus Ipul. Saat melapor ke Presiden Prabowo, dia mengapresiasi penerapan tes ini.

“Karena tidak ada tes akademik di Sekolah Rakyat, maka kami melakukan Tes DNA Talent berbasis teknologi artificial intelligence (AI) untuk memetakan potensi siswa. Untuk pertama kali ini, kami berterima kasih kepada Pak Ary Ginanjar yang telah mendukung dan menyediakan Tes DNA Talent,” ujar Gus Ipul.

Menurut Gus Ipul, tes ini memungkinkan pemetaan yang objektif dan komprehensif. Hasilnya? Potensi siswa ternyata sangat beragam.

“Melalui pemetaan talenta, kami menemukan potensi yang sangat beragam. Ada yang kuat di bidang sains dan teknologi, ada yang menonjol di bidang sosial, dan ada pula yang berbakat di bidang bahasa,” jelasnya.

Di sisi lain, Ary Ginanjar membeberkan lebih detail. Tes ini dirancang dengan model tiga dimensi Drive, Network, Action yang sudah memenuhi standar psikometri internasional. Tujuannya personalisasi belajar. Setiap anak digali potensinya sendiri, tidak disamaratakan.

“Di sekolah umum lainnya 92% anak bingung memilih jurusan bahkan 70% salah memilih jurusan,” ungkapnya, menyoroti problem klasik sistem pendidikan konvensional.

Komitmen Ary Ginanjar tak main-main. Dia bahkan menyiapkan kuota untuk 35 lulusan Sekolah Rakyat agar bisa lanjut studi di Universitas Ary Ginanjar dan ESQ Business School pada 2027. Tujuh orang di antaranya bahkan dijanjikan lapangan kerja. Baginya, kualitas anak-anak ini sudah tak diragukan lagi sejak proses penerimaan.

Secara keseluruhan, Presiden Prabowo telah meresmikan 166 titik Sekolah Rakyat yang tersebar di 34 provinsi. Saat ini, program itu telah menjangkau hampir 16.000 siswa, didukung oleh ribuan guru dan tenaga kependidikan.

Dalam sambutannya, Prabowo tak menyembunyikan rasa harunya.

"Terima kasih semuanya, kita telah mewujudkan upaya ini, dan saya terus terang saja cukup bahagia, cukup besar hati, saya terharu sebetulnya melihat dampak daripada upaya kita," kata Presiden Prabowo.

Ia menyebut Sekolah Rakyat sebagai sebuah terobosan berani, langkah nyata dalam upaya pengentasan kemiskinan.

Editor: Melati Kusuma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar