Laba Bersih Astra 2025 Turun Tipis 3%, Jasa Keuangan Jadi Penyelamat

- Minggu, 01 Maret 2026 | 12:00 WIB
Laba Bersih Astra 2025 Turun Tipis 3%, Jasa Keuangan Jadi Penyelamat

Laporan keuangan PT Astra International Tbk (ASII) untuk akhir tahun 2025 akhirnya dirilis. Hasilnya? Ada angin segar, tapi juga ada awan mendung. Di kuartal IV, raksasa konglomerasi ini membukukan laba bersih Rp8,3 triliun. Angka itu naik 3% dibanding periode sama tahun sebelumnya. Namun, jika dibandingkan dengan kuartal III-2025, justru terjadi penurunan sebesar 7%.

Secara keseluruhan, laba bersih Astra sepanjang 2025 tercatat Rp32,8 triliun. Itu artinya turun tipis, hanya 3% year-on-year. Pencapaian ini sejalan dengan ekspektasi pasar dan bahkan memenuhi 102% dari estimasi konsensus analis.

Nah, kalau kita bedah, kinerja tiga bisnis inti Astra ternyata berjalan dengan cerita yang berbeda-beda. Menurut catatan Stockbit per Sabtu (28/2/2026), segmen jasa keuangan menjadi penyelamat utama. Sebaliknya, bisnis alat berat dan pertambangan lewat PT United Tractors Tbk (UNTR) justru jadi pemberat.

Jasa keuangan kembali menunjukkan ketangguhannya. Segmen ini mencatat pertumbuhan laba bersih 13% sepanjang tahun 2025. Hanya di kuartal IV saja, pertumbuhannya mencapai 9%. Pendorong utamanya datang dari kenaikan pembiayaan konsumen baru, terutama untuk produk multiguna yang permintaannya lagi tinggi.

Sementara itu, bisnis otomotif dan mobilitas terlihat relatif datar. Laba bersihnya stagnan di angka Rp11,4 triliun untuk tahun 2025. Ternyata, pertumbuhan yang cukup bagus dari bisnis komponen dan sepeda motor berhasil menutupi pelemahan di penjualan mobil. Ini wajar, mengingat penjualan mobil nasional sendiri turun 7% sepanjang tahun lalu.

Di sisi lain, tekanan justru sangat terasa di lini usaha UNTR. Pada kuartal IV-2025, laba bersih anak usaha ini anjlok 15% menjadi Rp3,3 triliun. Lebih parah lagi, secara tahunan labanya merosot 24% menjadi Rp14,8 triliun angka yang dinilai berada di bawah ekspektasi pasar.

Penurunan ini tak lepas dari pengaruh kerugian penurunan nilai investasi di PT Supreme Energy Rantau Dedap, yang mencapai Rp866,1 miliar. Tapi jangan salah, meski faktor itu dikeluarkan, laba UNTR tetap terkoreksi 20%. Artinya, pelemahan fundamentalnya memang nyata.

Meski begitu, di internal UNTR sendiri ada cerita menarik. Segmen emas dan mineral lainnya justru bersinar, menjadi penopang utama dengan pertumbuhan laba bersih yang fantastis: 104% dibanding kuartal sebelumnya dan 79% secara tahunan. Sayangnya, kinerja gemilang ini tertutup oleh pelemahan yang dalam di segmen alat berat, kontraktor pertambangan, dan tentu saja, pertambangan batu bara.

Yang cukup mengejutkan, justru bisnis di luar tiga segmen inti Astra yang tampil impresif. Ambil contoh segmen properti, yang labanya melonjak hingga 224%! Lonjakan ini ditopang kontribusi aset pergudangan industri yang baru diakuisisi, plus pembukuan "negative goodwill" dari akuisisi PT Mega Manunggal Property Tbk (MMLP).

Segmen agribisnis juga terdongkrak oleh kenaikan harga jual CPO sebesar 11%. Begitu pula dengan infrastruktur dan logistik, yang diuntungkan oleh kenaikan pendapatan tol harian sebesar 8%.

Kinerja solid dari segmen-segmen "pendukung" ini punya dampak signifikan. Kontribusi mereka terhadap laba bersih konsolidasian Astra naik menjadi sekitar 10%, dari yang sebelumnya hanya 7% di tahun 2024. Diversifikasi portofolio bisnis rupanya benar-benar menjadi kunci ketahanan perusahaan.

Lalu, bagaimana dengan imbal hasil untuk investor? Manajemen mengusulkan dividen final sebesar Rp292 per saham. Dengan harga per 27 Februari 2026, ini mengindikasikan "dividend yield" sekitar 4,4%.

Sebelumnya, perusahaan sudah membagikan dividen interim untuk tahun buku 2025 sebesar Rp98 per saham pada Oktober lalu. Dengan profil kinerja yang stabil seperti ini, Stockbit menilai ASII masih punya daya tarik sebagai "dividend play".

Ke depan, pergerakan saham ASII diperkirakan akan lebih banyak dipengaruhi oleh aksi korporasi dan perkembangan izin tambang emas Martabe. Ada beberapa hal yang patut dicatat.

Pada Februari 2026, Astra telah menyelesaikan akuisisi 100% saham PT Arafura Surya Alam, pemilik tambang emas Doup di Sulawesi Utara.

Perseroan juga baru saja merampungkan program "buyback" saham tahap kedua senilai Rp685 miliar pada 25 Februari 2026. Rencananya, program pembelian kembali saham ini akan dilanjutkan lagi, dengan rincian yang akan diumumkan kemudian.

Jadi, meski ada tekanan dari satu sisi, ketahanan Astra tetap terlihat berkat portofolio bisnisnya yang luas. Semuanya kini tergantung pada eksekusi strategi ke depan.

Editor: Agus Setiawan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar