Laporan keuangan PT Astra International Tbk (ASII) untuk akhir tahun 2025 akhirnya dirilis. Hasilnya? Ada angin segar, tapi juga ada awan mendung. Di kuartal IV, raksasa konglomerasi ini membukukan laba bersih Rp8,3 triliun. Angka itu naik 3% dibanding periode sama tahun sebelumnya. Namun, jika dibandingkan dengan kuartal III-2025, justru terjadi penurunan sebesar 7%.
Secara keseluruhan, laba bersih Astra sepanjang 2025 tercatat Rp32,8 triliun. Itu artinya turun tipis, hanya 3% year-on-year. Pencapaian ini sejalan dengan ekspektasi pasar dan bahkan memenuhi 102% dari estimasi konsensus analis.
Nah, kalau kita bedah, kinerja tiga bisnis inti Astra ternyata berjalan dengan cerita yang berbeda-beda. Menurut catatan Stockbit per Sabtu (28/2/2026), segmen jasa keuangan menjadi penyelamat utama. Sebaliknya, bisnis alat berat dan pertambangan lewat PT United Tractors Tbk (UNTR) justru jadi pemberat.
Jasa keuangan kembali menunjukkan ketangguhannya. Segmen ini mencatat pertumbuhan laba bersih 13% sepanjang tahun 2025. Hanya di kuartal IV saja, pertumbuhannya mencapai 9%. Pendorong utamanya datang dari kenaikan pembiayaan konsumen baru, terutama untuk produk multiguna yang permintaannya lagi tinggi.
Sementara itu, bisnis otomotif dan mobilitas terlihat relatif datar. Laba bersihnya stagnan di angka Rp11,4 triliun untuk tahun 2025. Ternyata, pertumbuhan yang cukup bagus dari bisnis komponen dan sepeda motor berhasil menutupi pelemahan di penjualan mobil. Ini wajar, mengingat penjualan mobil nasional sendiri turun 7% sepanjang tahun lalu.
Di sisi lain, tekanan justru sangat terasa di lini usaha UNTR. Pada kuartal IV-2025, laba bersih anak usaha ini anjlok 15% menjadi Rp3,3 triliun. Lebih parah lagi, secara tahunan labanya merosot 24% menjadi Rp14,8 triliun angka yang dinilai berada di bawah ekspektasi pasar.
Penurunan ini tak lepas dari pengaruh kerugian penurunan nilai investasi di PT Supreme Energy Rantau Dedap, yang mencapai Rp866,1 miliar. Tapi jangan salah, meski faktor itu dikeluarkan, laba UNTR tetap terkoreksi 20%. Artinya, pelemahan fundamentalnya memang nyata.
Meski begitu, di internal UNTR sendiri ada cerita menarik. Segmen emas dan mineral lainnya justru bersinar, menjadi penopang utama dengan pertumbuhan laba bersih yang fantastis: 104% dibanding kuartal sebelumnya dan 79% secara tahunan. Sayangnya, kinerja gemilang ini tertutup oleh pelemahan yang dalam di segmen alat berat, kontraktor pertambangan, dan tentu saja, pertambangan batu bara.
Yang cukup mengejutkan, justru bisnis di luar tiga segmen inti Astra yang tampil impresif. Ambil contoh segmen properti, yang labanya melonjak hingga 224%! Lonjakan ini ditopang kontribusi aset pergudangan industri yang baru diakuisisi, plus pembukuan "negative goodwill" dari akuisisi PT Mega Manunggal Property Tbk (MMLP).
Artikel Terkait
Program Pondasi Perbaiki Ratusan Rumah Warga di Kalimantan Tengah
Laba Bersih ITMG Anjlok 49% di Tengah Pelemahan Harga Batu Bara
Harga Emas Antam Stagnan di Rp 3,085 Juta per Gram Awal Maret
BGN Klarifikasi Insentif Rp6 Juta per Hari untuk Dapur MBG: Skema Efisien, Risiko Ditanggung Mitra