Pasar keuangan global bersiap menghadapi pekan yang penuh gejolak di awal Maret 2026. Sentimen investor kemungkinan besar akan dibentuk oleh dua hal: data ekonomi kunci dari raksasa-raksasa dunia, dan tentu saja, eskalasi konflik di Timur Tengah yang makin mencemaskan.
Dari sisi data, semua mata tertuju pada Amerika Serikat. Laporan ketenagakerjaan resmi untuk Februar nanti sangat dinantikan. Pasalnya, indikator pasar tenaga kerja AS belakangan ini cukup solid, sehingga banyak pelaku pasar mulai menunda harapan mereka untuk melihat pemangkasan suku bunga The Fed dalam waktu dekat. Selain laporan pekerjaan, data PMI Manufaktur dari ISM dan angka penjualan ritel juga bakal jadi sorotan utama.
Namun begitu, AS bukan satu-satunya. China, Kanada, Korea Selatan, dan sejumlah negara ASEAN termasuk Indonesia, juga akan merilis data PMI Manufaktur mereka. Ini akan memberikan gambaran yang lebih luas tentang kesehatan perekonomian global.
Di sisi lain, ada satu kekhawatiran yang jauh lebih besar dan berdarah: konflik di Timur Tengah. Situasi di Iran khususnya, kini menjadi momok bagi investor. Ketegangan memuncak setelah serangan militer AS-Israel yang menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, pada Sabtu pekan lalu. Iran tak tinggal diam. Mereka membalas dengan menyerang kota-kota di kawasan Teluk.
Akibatnya, kekacauan pun merebak. Maskapai penerbangan membatalkan rute, sementara kapal-kapal tanker pengangkut minyak dan komoditas lain memutuskan untuk berhenti sejenak pelayaran melalui Selat Hormuz yang vital itu praktis terhenti.
Risiko terbesarnya adalah ketidakpastian. Apa yang akan terjadi selanjutnya di Iran? Pertanyaan itu sulit dijawab, mengingat sistem pemerintahan Republik Islam yang kompleks, basis pendukungnya yang ideologis, dan pengaruh besar Garda Revolusi. Semua faktor ini membuat situasi jadi sangat tidak terduga.
Eskalasi ini langsung berimbas pada harga minyak, yang memang sudah naik dalam beberapa pekan terakhir. Prospek harganya sekarang jadi sangat bergantung pada dua hal: langkah-langkah yang diambil negara produsen minyak, dan apakah gangguan pada pelayaran tanker di Timur Tengah akan berlangsung lama. Dampaknya bisa luas sekali, bukan cuma pada inflasi global, tapi juga pada aset-aset yang selama ini dianggap aman seperti obligasi.
Lalu, bagaimana dengan Indonesia?
Di dalam negeri, Badan Pusat Statistik (BPS) bersiap merilis segudang data penting mulai dari ekspor-impor hingga inflasi. Inflasi Januari lalu sempat bikin heboh, melonjak ke level tertinggi dalam 37 bulan terakhir, tepatnya 3,55 persen (year-on-year). Angka itu sedikit menembus batas atas target Bank Indonesia.
Tapi tenang, kenaikan tajam ini lebih disebabkan oleh "low base effect". Jadi, lonjakan hanya terasa dalam perhitungan tahunan. Secara bulanan, kita malah mengalami deflasi 0,15 persen. Tren deflasi ini sebenarnya lanjutan dari tahun lalu, didorong oleh normalisasi harga sejumlah bahan pangan dan biaya transportasi.
Ada kabar baik juga dari sektor industri. Indeks Kepercayaan Industri (IKI) Februari 2026 tercatat di angka 54,02. Memang turun tipis 0,10 poin dari Januari, tapi kalau dibandingkan Februari tahun lalu, justru naik 0,87 poin. Posisinya sekarang adalah yang tertinggi kedua sejak IKI pertama kali diluncurkan.
Jadi, pekan depan, investor harus siap menyimak dua narasi sekaligus: angka-angka statistik dari seluruh penjuru dunia, dan perkembangan politik yang panas di Timur Tengah. Kombinasi yang pasti bakal seru.
Artikel Terkait
28 Saham Mid-Big Cap Catat PBV di Bawah 1, Sinyal Value Investing?
Direktur MSIN Buka Suara Soal Volatilitas Saham dan Rencana Secondary Listing
MNC Sekuritas Gelar Instagram Live Bahas Potensi dan Risiko Waran Terstruktur
Grup Bakrie Pacu Restrukturisasi Modal Lewat Rights Issue dan Private Placement