Kolaborasi Seni dan Solidaritas: 17.000 Paket Rendang untuk Korban Bencana Sumatera

- Senin, 02 Maret 2026 | 07:15 WIB
Kolaborasi Seni dan Solidaritas: 17.000 Paket Rendang untuk Korban Bencana Sumatera

Di tengah suasana Ramadan, sebuah acara yang unik digelar di Universitas Indonesia, Depok, Minggu lalu. Acara bertajuk 'Ramadhan of Food Performative: Rendang untuk Sumatera' itu bukan sekadar pertunjukan biasa. Ia memadukan seni musik, puisi, dan pameran etnografi dengan satu misi solidaritas yang konkret: mendistribusikan 17.000 paket rendang siap saji untuk warga Sumatera yang terdampak bencana.

Kolaborasi ini melibatkan banyak pihak, dari Kementerian Kebudayaan, Marandang Institute, hingga Dewan Kesenian Jakarta. Menurut sejumlah saksi, suasana di lokasi terasa hangat, penuh dengan aroma rempah yang menggugah selera, diiringi alunan musik yang syahdu.

Menteri Kebudayaan, Fadli Zon, hadir dan memberikan apresiasi. Baginya, pendekatan seperti ini adalah inovasi budaya yang cerdas.

"Rendang atau randang dalam penyebutan Minang adalah bagian dari kekayaan budaya kita yang luar biasa. Variannya sangat banyak, bahkan di Sumatera Barat saja terdapat puluhan jenis," kata Fadli dalam keterangan tertulisnya, Senin (2/3).

Dia menegaskan, gastronomi adalah objek pemajuan kebudayaan yang sah. Lebih dari itu, pilihan rendang sebagai bantuan dinilainya sangat strategis. Makanan ini tahan lama, berbahan lokal, dan praktis cocok untuk kondisi darurat.

"Gotong royong adalah kunci. Kolaborasi lintas institusi seperti ini menunjukkan bahwa dengan semangat kebersamaan, kita dapat menghadirkan solusi nyata," tuturnya lagi.

Di sisi lain, Wakil Rektor UI Bidang Riset dan Inovasi, Hamdi Muluk, melihat kegiatan ini sebagai cerminan filosofi Minang 'Tungku Tigo Sajarangan'. Sinergi antara pemerintah, kampus, dan masyarakat.

"Ini adalah wujud kontribusi perguruan tinggi dan komunitas budaya bagi masyarakat," ujarnya.

Di balik layar, persiapan acara ini cukup masif. Chef Aidil Usman mengungkapkan, gerakan ini menyiapkan 1,5 ton rendang! Untuk mendukung produksi berkelanjutan, mereka telah menyiapkan puluhan wajan, kompor, dan tungku sebagai investasi jangka panjang.

Bagi Aidil, rendang bukan cuma makanan. Ia adalah representasi nilai-nilai luhur: kesabaran, kebersamaan, dan penghargaan tinggi terhadap proses.

Acara yang dihadiri sejumlah tokoh seperti Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Anak, Arifatul Choiri Fauzi, serta budayawan Inayah Wahid ini ingin menyampaikan pesan kuat. Pemajuan kebudayaan bukan cuma soal pelestarian, tapi juga aksi nyata yang langsung menyentuh kehidupan masyarakat. Dengan kata lain, kekayaan budaya bisa jadi solusi kemanusiaan sekaligus penguat solidaritas.

Harapannya ke depan, kolaborasi semacam ini bisa terus tumbuh. Menjadikan kebudayaan sebagai pemersatu dan penggerak kepedulian yang nyata.

Editor: Bayu Santoso

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar