“Melalui pemetaan talenta, kami menemukan potensi yang sangat beragam. Ada yang kuat di bidang sains dan teknologi, ada yang menonjol di bidang sosial, dan ada pula yang berbakat di bidang bahasa,” jelasnya.
Di sisi lain, Ary Ginanjar membeberkan lebih detail. Tes ini dirancang dengan model tiga dimensi Drive, Network, Action yang sudah memenuhi standar psikometri internasional. Tujuannya personalisasi belajar. Setiap anak digali potensinya sendiri, tidak disamaratakan.
“Di sekolah umum lainnya 92% anak bingung memilih jurusan bahkan 70% salah memilih jurusan,” ungkapnya, menyoroti problem klasik sistem pendidikan konvensional.
Komitmen Ary Ginanjar tak main-main. Dia bahkan menyiapkan kuota untuk 35 lulusan Sekolah Rakyat agar bisa lanjut studi di Universitas Ary Ginanjar dan ESQ Business School pada 2027. Tujuh orang di antaranya bahkan dijanjikan lapangan kerja. Baginya, kualitas anak-anak ini sudah tak diragukan lagi sejak proses penerimaan.
Secara keseluruhan, Presiden Prabowo telah meresmikan 166 titik Sekolah Rakyat yang tersebar di 34 provinsi. Saat ini, program itu telah menjangkau hampir 16.000 siswa, didukung oleh ribuan guru dan tenaga kependidikan.
Dalam sambutannya, Prabowo tak menyembunyikan rasa harunya.
"Terima kasih semuanya, kita telah mewujudkan upaya ini, dan saya terus terang saja cukup bahagia, cukup besar hati, saya terharu sebetulnya melihat dampak daripada upaya kita," kata Presiden Prabowo.
Ia menyebut Sekolah Rakyat sebagai sebuah terobosan berani, langkah nyata dalam upaya pengentasan kemiskinan.
Artikel Terkait
Siapkan Tas Darurat, Jangan Panik: Ini Barang Wajib untuk Antisipasi Isu Publik
GEMA AKSI Tuntut KPK Usut Jampidsus Soal Dugaan Barang Bukti Rp 472 Miliar yang Raib
Salam Ganesha yang Membawa Pulang: Sebuah Panggilan Setelah Dua Dekade
SBY Tegaskan AHY sebagai Satu-satunya Matahari yang Tentukan Arah Partai Demokrat