Pasar saham di Uni Emirat Arab bak mati lampu selama dua hari. Abu Dhabi dan Dubai memutuskan menutup bursa mereka pada Senin dan Selasa ini, langkah yang jelas-jelas menanggapi makin panasnya situasi di Teluk. Ini bukan sekadar libur biasa, melainkan sinyal kuat betapa rapuhnya stabilitas ekonomi kawasan ketika konflik bersenjata meledak.
Pemicunya? Serangan balasan rudal dan drone Iran yang mengguncang wilayah itu akhir pekan lalu. Namun begitu, rentetan peristiwa ini berawal lebih dulu. Agresi militer gabungan AS dan Israel sebelumnya telah menewaskan pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei. Aksi itu ibarat bara yang menyulut amarah Teheran.
Otoritas Pasar Modal UEA, lewat pernyataan resminya, menyebut penutupan ini sebagai bentuk pengawasan. Mereka bilang akan terus memantau perkembangan dan mengambil langkah-langkah lain jika diperlukan.
"Otoritas akan terus memantau perkembangan di kawasan dan menilai situasi secara berkelanjutan, serta mengambil langkah tambahan yang diperlukan," begitu bunyi pengumuman mereka, seperti dilansir Reuters.
Dampaknya langsung terasa. Bayangkan saja, dua bursa utama itu adalah rumah bagi perusahaan-perusahaan paling bernilai di kawasan. Penutupan mendadak ini membuat aset senilai miliaran dolar tiba-tiba terbeku. Investor pun cuma bisa menunggu, sambil mencerna kabar tentang kerusakan di bandara, pelabuhan, dan permukiman setelah serangan Sabtu dan Minggu itu.
Kepanikan sudah lebih dulu terlihat di bursa lain yang masih buka. Pada hari Minggu, pasar saham Teluk berdarah-darah. Indeks utama Arab Saudi anjlok lebih dari 4 persen di pembukaan. Oman melemah 3 persen. Mesir bahkan merosot tajam 5,44 persen. Sementara Kuwait, memilih untuk menghentikan perdagangan sama sekali langkah darurat yang menggambarkan suasana ketakutan.
Buat yang menunggu kejelasan, saran resminya cuma satu: pantau terus kanal komunikasi dari Otoritas Pasar Modal UEA, ADX, dan DFM. Kabar soal kapan perdagangan akan kembali normal, masih jadi tanda tanya besar. Situasinya benar-benar fluid, dan semua pihak tampaknya sedang menahan napas.
Artikel Terkait
Pemerintah Tegaskan Sistem Tol Tanpa Palang Masih Tahap Uji Fungsi Dasar
Pabrik Baru PT Mulia Boga Raya (KEJU) Ditargetkan Beroperasi Juli 2026
Laba Bersih DADA Melonjak Tiga Kali Lipat Meski Arus Kas Operasi Negatif
WMUU Bakal Rights Issue Rp600 Miliar, Harga Penawaran Lebih Tinggi dari Pasar