Deteksi Dini Kanker Masih Tertinggal, 70% Pasien Baru Ketahuan Saat Stadium Lanjut

- Selasa, 03 Februari 2026 | 08:20 WIB
Deteksi Dini Kanker Masih Tertinggal, 70% Pasien Baru Ketahuan Saat Stadium Lanjut

JAKARTA – Kasus kanker di Indonesia masih tinggi. Yang lebih memprihatinkan, sebagian besar pasien baru menyadari penyakitnya setelah kondisi memasuki stadium lanjut. Fakta ini diungkap oleh Kementerian Kesehatan, menyambut peringatan Hari Kanker Sedunia setiap 4 Februari.

Menurut dr. Prihandriyo Sri Hijranti dari Direktorat PTM Kemenkes, temuan ini didapat dari program cek kesehatan gratis atau CKG. Dari pemeriksaan itu, terlihat ada empat jenis kanker yang paling banyak ditemukan dan jadi prioritas penanganan.

“Ada empat kanker prioritas yang tadi angkanya sudah tinggi sekali yaitu ada kanker leher rahim, kanker payudara, kemudian untuk yang pria biasanya kanker paru dan kolonektal,” jelas dr. Sri dalam Sarasehan World Cancer Day, Minggu (1/2/2026).

Ia juga menambahkan, pihaknya memantau faktor risiko terkait fibrosis hati yang berpotensi berkembang menjadi sirosis.

Nah, angka yang bikin kita semua perlu waspada: sekitar 70 persen pasien dari hasil CKG itu sudah mengidap kanker stadium lanjut. Makanya, Kemenkes sekarang fokus banget mengampanyekan deteksi dini. Tujuannya jelas, agar kanker bisa ditemukan dan ditangani lebih awal, sebelum semuanya terlambat.

“Kita sedang melakukan transformasi kesehatan dan dimulai dengan layanan primer. Kita dominasi untuk deteksi dini,” tegas dr. Sri.

Di sisi lain, tren serupa dilaporkan oleh RS Kanker Dharmais. Direktur Utamanya, dr. R. Soeko Werdi Nindito D., MARS, mengaku jumlah pasien di rumah sakitnya terus meningkat dalam enam tahun terakhir. Keterlambatan deteksi dini lagi-lagi jadi biang keladi, menyebabkan banyak pasien datang dalam kondisi yang sudah parah.

dr. Soeko lantas memaparkan, setidaknya ada tujuh program penanganan kanker yang mesti dipahami publik.

“Dalam kanker itu ada 7 program yg harus dipahami, di antaranya promotif preventif kita promosi ke masyarakat seperti hidup sehat dan jangan merokok, kemudian deteksi dini salah satunya dengan CKG ini. Ini tahap awal deteksi dini,” paparnya.

Momentum Hari Kanker 2026 ini juga dimanfaatkan oleh Ketua Umum PP POI, Dr. dr. Cosphiadi Irawan, Sp.PD-KHOM, untuk menyuarakan hal penting. Setiap perjalanan pasien kanker itu unik, dengan kebutuhan dan tantangannya masing-masing.

Namun begitu, satu hal yang mutlak: seluruh pemangku kepentingan harus bersatu padu.

“Seluruh pemangku kepentingan perlu bergerak bersama agar layanan kanker dapat diakses secara setara oleh semua pasien,” pungkas dr. Cosphiadi.

Intinya, pesan dari para ahli ini jelas. Deteksi dini bukan sekadar imbauan, tapi langkah penyelamatan. Tanpa itu, pertaruhan nyawa pasien jadi jauh lebih besar.

Editor: Erwin Pratama

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar