Namun begitu, Gus Yahya rupanya tidak menutup pintu dialog. Ia masih menginginkan penyelesaian secara baik-baik dan damai. Menurutnya, pasti ada jalan keluar jika semua pihak mau duduk bersama mencari solusi. Tujuannya jelas: agar masalah ini tidak terus melebar dan berlarut-larut.
"Jadi ya kita lihat ini sebagai manuver saja. Apakah ada jalan keluar? Ada jalan keluar," tegasnya.
Rapat pleno yang jadi perbincangan itu rencananya digelar di Hotel Sultan, Jakarta Pusat, pada 9-10 Desember. Agendanya ada dua: penyampaian hasil rapat harian Syuriyah, dan yang paling krusial, penetapan Penjabat Ketua Umum PBNU.
Dasar pelaksanaannya adalah sebuah surat resmi bernomor 4799/PB.02/A.I.01.01/99/12/2025. Surat itu telah ditandatangani oleh Rais Aam PBNU KH Miftachul Akhyar dan Katib Syuriyah PBNU KH Ahmad Tajul Mafakhir (Gus Tajul) sejak tanggal 2 Desember lalu.
Nah, di tengah situasi yang agak memanas ini, Gus Yahya memilih untuk bersikap tenang. Ia seolah menunggu dan melihat ke mana arah angin akan berhembus. Satu hal yang pasti, klaimnya atas kursi ketum masih sangat kuat. Dan ia siap membuktikannya.
Artikel Terkait
Mentan Zulhas Pastikan Konflik Timur Tengah Tak Pengaruhi Ketahanan Pangan Nasional
Laba Bersih Bank Jago Melonjak 114% pada 2025, Didorong Pertumbuhan Nasabah
RUU Hak Cipta Usulkan Karya Jurnalistik Dilindungi Hak Eksklusif dan Royalti
Pemerintah Rencanakan Pagar Raksasa untuk Atasi Konflik Gajah-Manusia di Way Kambas