Gus Yahya Santai Hadapi Manuver Rapat Pleno PBNU

- Selasa, 09 Desember 2025 | 17:40 WIB
Gus Yahya Santai Hadapi Manuver Rapat Pleno PBNU

JAKARTA – Suasana di Kantor Pusat PBNU terlihat biasa saja, Selasa (9/12/2025) lalu. Padahal, di tempat lain, sebuah rapat pleno digelar untuk menentukan Penjabat Ketua Umum organisasi itu. Menanggapi hal ini, Ketum PBNU Yahya Cholil Staquf, atau yang akrab disapa Gus Yahya, terlihat cukup santai. Baginya, kegiatan itu tak lebih dari sebuah "kepentingan".

Dengan tenang, Gus Yahya menegaskan posisinya. Secara administrasi dan hukum, statusnya sebagai Ketua Umum PBNU masih sah. Karena itu, ia memilih untuk bersikap rileks menyikapi manuver yang terjadi.

"Ya itu tadi, apa namanya, ada yang punya kepentingan lalu membuat manuver itu biasa," ujarnya.

"Nanti kita lihat saja, namanya manuver."

Ia kembali menegaskan, tanpa ada permintaan dari pihak tertinggi, proses penetapan Pj Ketum itu mustahil dieksekusi. Menurutnya, langkah tersebut justru bertentangan dengan AD/ART dan melawan hukum. Tak hanya itu, rapat pleno yang digelar pun dinilainya tidak sah. Pasalnya, dirinya sebagai Ketua Umum tidak dilibatkan sama sekali.

Namun begitu, Gus Yahya rupanya tidak menutup pintu dialog. Ia masih menginginkan penyelesaian secara baik-baik dan damai. Menurutnya, pasti ada jalan keluar jika semua pihak mau duduk bersama mencari solusi. Tujuannya jelas: agar masalah ini tidak terus melebar dan berlarut-larut.

"Jadi ya kita lihat ini sebagai manuver saja. Apakah ada jalan keluar? Ada jalan keluar," tegasnya.

Rapat pleno yang jadi perbincangan itu rencananya digelar di Hotel Sultan, Jakarta Pusat, pada 9-10 Desember. Agendanya ada dua: penyampaian hasil rapat harian Syuriyah, dan yang paling krusial, penetapan Penjabat Ketua Umum PBNU.

Dasar pelaksanaannya adalah sebuah surat resmi bernomor 4799/PB.02/A.I.01.01/99/12/2025. Surat itu telah ditandatangani oleh Rais Aam PBNU KH Miftachul Akhyar dan Katib Syuriyah PBNU KH Ahmad Tajul Mafakhir (Gus Tajul) sejak tanggal 2 Desember lalu.

Nah, di tengah situasi yang agak memanas ini, Gus Yahya memilih untuk bersikap tenang. Ia seolah menunggu dan melihat ke mana arah angin akan berhembus. Satu hal yang pasti, klaimnya atas kursi ketum masih sangat kuat. Dan ia siap membuktikannya.

Editor: Erwin Pratama

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar