Nelayan Gresik Manfaatkan Panel Surya Apung untuk Keramba Ikan

- Selasa, 09 Desember 2025 | 16:55 WIB
Nelayan Gresik Manfaatkan Panel Surya Apung untuk Keramba Ikan

Di pesisir Gresik, tepatnya di Desa Ngemboh, ada sebuah terobosan baru yang mulai diujicoba. PT Orela Shipyard, afiliasi dari ELPI, baru saja meresmikan program bernama Sinar Alam Laut atau Sinala. Intinya, program ini memanfaatkan panel surya terapung untuk memberi daya pada keramba-keramba ikan milik nelayan setempat.

Inisiatif ini bukan cuma soal listrik. Teknologi Floating Photovoltaic (FPV) itu menjadi sumber energi untuk beberapa hal penting: lampu khusus yang disebut Lamusa, sistem CCTV, dan perangkat IoT di keramba. Dua masalah klasik nelayan jadi sasaran utamanya: angka kematian ikan yang tinggi karena kurang pakan alami, dan ancaman pencurian yang kerap meresahkan.

Corporate Secretary ELPI, Wawan Heri Purnomo, menjelaskan bahwa Sinala adalah bagian dari komitmen lingkungan dan sosial grup mereka.

“Keberadaan program Sinala ini merupakan bagian dari strategi ESG ELPI Group yang diimplementasikan melalui Orela. Sebagai bentuk dukungan dan kontribusi terhadap keberlanjutan, ELPI memberikan dukungan in-kind secara afiliasi kepada Orela untuk merealisasikan program ini,” ujarnya, Selasa lalu.

Menurutnya, langkah ini sejalan dengan visi perusahaan untuk memberikan dampak nyata, tak hanya sekadar mengejar keuntungan bisnis semata.

Di sisi lain, Direktur Utama Orela, Dr. Soegeng Riyadi, menekankan bahwa inovasi ini adalah buah dari penelitian panjang.

“Sinala adalah terobosan solusi maritim inovatif yang relevan dengan kebutuhan masyarakat pesisir. Program yang saat ini dilaksanakan di Desa Ngemboh dan Dusun Cabean ini merupakan langkah awal hasil sinergi ELPI-ORELA, ADB, dan ITS setelah melalui riset selama lima tahun," jelas Soegeng.

Harapannya jelas: efisiensi operasional nelayan meningkat, ketergantungan pada bahan bakar fosil berkurang. Soegeng juga berharap program ini bisa diperluas dan menginspirasi perusahaan lain.

Nah, dari sisi akademisi, Dr. Erna Setyaningrum dari ITS mengungkapkan latar belakangnya. Ide Sinala muncul dari persoalan nyata di lapangan.

“Selama ini operasional melaut sangat bergantung pada BBM. Melalui Sinala, kami tidak hanya mendorong pengurangan penggunaan BBM, tetapi juga peningkatan produksi tangkap ikan,” tutur Erna.

Caranya? Lampu Lamusa yang ditenagai surya itu bisa menarik plankton sumber pakan alami ikan. Ditambah lagi, sistem keamanan berbasis IoT dan machine learning dipasang untuk mengawasi keramba, mengurangi risiko pencurian.

Respon dari pemerintah setempat pun ternyata positif. Kepala Desa Ngemboh, Ana Muslihah, menyambut baik kehadiran teknologi ini.

“Kami berterima kasih kepada PT Orela dan para peneliti ITS atas inovasi ini yang sangat membantu para nelayan. Kami berharap program ini benar-benar memberikan manfaat nyata bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat Desa Ngemboh,” ungkapnya.

Apresiasi serupa datang dari Camat Ujung Pangkah, Shofwan Hadi. Ia berharap sinergi antara masyarakat, pelaku usaha, dan akademisi seperti ini bisa terus berjalan.

Pada akhirnya, program Sinala ini diharapkan bukan sekadar proyek percontohan. ELPI dan Orela membayangkannya sebagai model yang bisa direplikasi di berbagai wilayah pesisir Indonesia. Tujuannya menciptakan ekosistem maritim yang lebih efisien, aman, dan tentu saja, ramah lingkungan. Jika berhasil, ini bisa jadi langkah awal hilirisasi teknologi maritim yang benar-benar menyentuh kebutuhan masyarakat.

(Shifa Nurhaliza Putri)

Editor: Redaksi MuriaNetwork

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar