JAKARTA Negeri kecil di Afrika Barat itu kembali gempar. Minggu lalu, tepatnya 7 Desember 2025, Presiden Benin Patrice Talon selamat dari sebuah percobaan kudeta militer. Upaya penggulingan itu memang akhirnya digagalkan, tapi peristiwa ini jelas menambah beban politik Talon. Stabilitas negara yang dulu dipuji-puji, kini tampak goyah.
Di sisi lain, sosok Talon sendiri memang tak pernah lepas dari kontroversi. Pria berusia 67 tahun itu dikenal tegas, punya latar belakang bisnis yang kuat, dan gaya kepemimpinan yang oleh sebagian orang disebut pragmatis, oleh yang lain dibilang otoriter.
Dari Kota Pesisir Ouidah
Semuanya berawal dari Ouidah. Di kota pesisir bersejarah itulah Patrice Guillaume Athanase Talon lahir, 1 Mei 1958. Keluarganya sederhana, tapi sangat menekankan pentingnya pendidikan. Talon pun merantau untuk belajar, pertama ke Dakar, Senegal, lalu melanjutkan studi ekonomi dan manajemennya di Prancis. Bakat bisnisnya sudah terlihat sejak muda.
Jalur Cepat Menjadi Raja Kapas
Dia memulai karir dengan berdagang kacang mete. Tapi ambisinya lebih besar dari itu. Talon kemudian banting setir ke industri kapas, dan sukses besar. Perusahaannya mendominasi sektor pengolahan kapas di Benin, mengantarkannya pada julukan "Raja Kapas". Pengaruhnya di dunia bisnis Afrika Barat pun meluas dengan cepat. Dari pedagang, menjadi magnate.
Namun begitu, dunia politik rupanya lebih menggoda.
Masuk ke Gelanggang Politik
Awal 2010-an, Talon memulai petualangan politiknya dengan menjadi pendukung setia Presiden Thomas Boni Yayi. Tapi persahabatan itu tidak abadi. Hubungan mereka retak pada 2012, setelah Talon dituduh terlibat dalam rencana pembunuhan terhadap Yayi.
Talon membantah keras. Dia memilih mengasingkan diri ke Prancis daripada menghadapi tuduhan itu.
Baru setelah ada pergantian kekuasaan dan amnesti diberikan, dia pulang ke Benin.
Puncak Karier: Menjadi Presiden
Tahun 2016 menjadi titik balik. Talon maju dalam pemilihan presiden dan menang. Janjinya waktu itu jelas: reformasi ekonomi, perang melawan korupsi, perbaikan infrastruktur. Tapi gaya kepemimpinannya segera menuai polemik. Revisi undang-undang pemilu yang dia dorong dinilai banyak kalangan membelenggu oposisi.
Pada 2021, dia terpilih lagi untuk periode kedua. Pemilu itu sendiri diselimuti kontroversi karena partisipasi oposisi yang sangat minim, akibat berbagai rintangan hukum dan birokrasi yang menurut pengamat diciptakan untuk mempersulit mereka.
Badai Kudeta dan Keselamatannya
Lalu datanglah percobaan kudeta Minggu lalu itu. Menurut sejumlah saksi, sekelompok personel militer yang tidak puas berusaha merebut kendali. Untung bagi Talon, pasukan loyalis bereaksi cepat dan menggagalkan aksi tersebut. Presiden selamat, kendali pemerintahan tetap di tangannya.
Tapi insiden ini membuka mata banyak pihak. Benin, yang sering disebut sebagai contoh demokrasi stabil di Afrika, ternyata menyimpan kerapuhan yang dalam. Ketegangan politik ternyata belum reda.
Warisan Kontroversial
Jadi, bagaimana menilai kepemimpinan Talon? Di satu sisi, dia dipuji karena pembangunan infrastruktur yang masif, perbaikan sistem perpajakan, dan pertumbuhan ekonomi. Hasilnya nyata.
Di sisi lain, kritik pedas terus mengalir. Ruang gerak oposisi dibatasi, aturan pemilu diperketat, independensi lembaga demokrasi dikikis, dan kekuasaan eksekutif diperkuat secara signifikan. Talon adalah gambaran sempurna pemimpin yang efektif sekaligus kontroversial.
Kini, setelah lolos dari ancaman di ujung senjata, tantangan terbesarnya mungkin adalah memulihkan kepercayaan dan merajut kembali stabilitas negara yang mulai retak.
Artikel Terkait
AHY Jenguk Korban Kecelakaan Kereta di Bekasi, 15 Tewas dan 88 Luka
Mantan Ibu Negara Korsel Kim Keon Hee Divonis 4 Tahun Penjara atas Kasus Suap dan Manipulasi Saham
AHY Dorong Percepatan Pembangunan Flyover Usai Kecelakaan Maut di Perlintasan Bekasi Timur
Gus Rosikh: Muktamar NU Jangan Dibajak Kepentingan Politik dan Ekonomi