JAKARTA Udara di Jakarta pagi itu terasa biasa saja, padat dan berdebu. Tapi di dalam ruang pertemuan Kementerian Agama, pembicaraan justru melayang jauh, menyentuh langit, gunung, dan hutan. Menteri Agama Nasaruddin Umar berbicara tentang sesuatu yang mendasar: kesadaran kita semua untuk menjaga alam.
Menurutnya, selama ini kita kerap diajari untuk melihat yang tampak. Namun, semua yang lahiriah itu harus punya penopang dari dalam, dari kesadaran batin yang dalam.
Tanpa itu, semuanya jadi rapuh.
"Maka kerukunan sejati tidak hanya horizontal, tetapi juga vertikal dengan semesta ciptaan Tuhan," ujar Nasaruddin.
Dia melanjutkan, suaranya tenang namun tegas, "Inilah panggilan zaman membangun kembali relasi spiritual dengan alam."
Pernyataan itu disampaikannya dalam dialog kerukunan lintas agama, Sabtu (6/12/2025) lalu. Acara itu sendiri digelar di kantornya, di Jakarta Pusat. Tapi pesannya jelas untuk semua.
Di sisi lain, Nasaruddin mendorong apa yang disebutnya sebagai ekoteologi. Istilah yang mungkin terdengar berat, tapi esensinya sederhana: bumi ini bukan sekadar real estate, tempat kita numpang hidup. Lebih dari itu, ia adalah amanah. Titipan Ilahi yang mesti kita jaga betul-betul.
Artikel Terkait
Mentan Zulhas Pastikan Konflik Timur Tengah Tak Pengaruhi Ketahanan Pangan Nasional
Laba Bersih Bank Jago Melonjak 114% pada 2025, Didorong Pertumbuhan Nasabah
RUU Hak Cipta Usulkan Karya Jurnalistik Dilindungi Hak Eksklusif dan Royalti
Pemerintah Rencanakan Pagar Raksasa untuk Atasi Konflik Gajah-Manusia di Way Kambas