Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto akhirnya angkat bicara. Soalnya, bantuan untuk korban bencana di Sumatera sempat ramai diperbincangkan karena cara penyalurannya: dilempar dari helikopter yang masih terbang. Banyak yang mempertanyakan, kenapa tidak diturunkan saja?
Menurut Agus, situasi di lapangan memang rumit. Wilayah yang terdampak banjir dan longsor itu sangat terpencil, terisolasi total. Jalur darat putus sama sekali. Nah, di sinilah TNI mengerahkan pesawat, dari helibox sampai payung udara, untuk menjangkau lokasi.
“Pada saat kemarin heli mau mendarat, di situ ada kabel,” jelas Agus saat jumpa pers di Posko Nasional Penanggulangan Bencana, Lanud Halim Perdanakusuma, Rabu lalu.
“Sehingga diputuskan oleh pilot barang itu tetap di-drop walaupun mungkin ada beberapa beras yang tercecer.”
“Tapi daripada dibawa lagi ke pangkalan udara, lebih baik di-drop dan dapat dimanfaatkan masyarakat,” lanjutnya, mencoba memberi penjelasan.
Memang, dia tak memungkiri ada bantuan yang rusak atau tercecer. Tapi itu, katanya, lebih karena faktor keselamatan. Pilot dihadapkan pada pilihan sulit: mempertaruhkan nyawa dan pesawat untuk mendarat di medan berbahaya, atau memastikan bantuan tetap sampai walau caranya kurang ideal.
Untuk pengiriman selanjutnya, TNI klaim sudah menggunakan sistem yang lebih aman. Mereka pakai helibox, yaitu boks berisi logistik yang punya semacam baling-baling. Saat dijatuhkan, boks itu turun perlahan dan barang di dalamnya relatif utuh. Metode ini juga dipakai pesawat besar seperti CN-235 dan Hercules, terutama di daerah seperti Aceh Tamiang.
Di sisi lain, Agus sangat menekankan soal keselamatan personel. Ini bukan tanpa alasan. Di Padang, tiga prajurit TNI dua dari Polisi Militer dan satu Babinsa tewas hanyut terseret banjir saat sedang membantu evakuasi warga.
“Beberapa hari kemudian ditemukan dalam keadaan meninggal dunia,” ujarnya dengan nada berat.
“Saya tekankan pada prajurit TNI untuk tetap menjaga keamanan personel dan alutsista.”
Sementara itu, dari pihak Angkatan Darat, KSAD Jenderal Maruli Simanjuntak menyebut evaluasi terus dilakukan. Intinya, agar kejadian bantuan pecah atau tercecer tidak terulang.
“Heli itu tidak bisa mendarat di manapun. Landasannya harus siap. Karena bantuan harus diberikan, kita coba untuk dilempar,” kata Maruli.
“Setelah ada yang pecah, kita evaluasi lagi. Sampai sekarang tidak terjadi lagi.”
Jadi, begitulah penjelasan mereka. Di balik citra bantuan yang ‘hanya’ dilempar, ternyata ada pertimbangan teknis dan keselamatan yang cukup pelik di lapangan. Tantangan logistik di daerah bencana yang ekstrem, rupanya, sering kali tidak sesederhana kelihatannya.
Artikel Terkait
Menkeu Terbitkan Aturan Baru Tata Kelola Anggaran OJK, Pemerintah Jamin Independensi Tetap Terjaga
Indeks Kepercayaan Industri April 2026 Turun Tipis ke 51,75, Kemenperin Sebut Masih Ekspansif
Nova Arianto Puji Transisi Timnas Indonesia di Bawah John Herdman, Optimistis Hadapi Piala AFF 2026
Prabowo Targetkan Bangun 30–40 Proyek Hilirisasi Baru demi Hentikan Ekspor Bahan Mentah