Pertemuan puncak antara Putra Mahkota Arab Saudi, Pangeran Mohammed bin Salman (MBS), dan Presiden Amerika Serikat Donald Trump di Gedung Putih pekan lalu ternyata tidak berjalan mulus. Alih-alih menemukan titik terang, percakapan justru memanas.
Media Axios, mengutip sejumlah pejabat AS yang enggan disebut namanya, melaporkan bahwa Trump mendesak dengan keras agar Riyadh segera bergabung dengan perjanjian perdamaian regional Abraham Accords. Intinya, Washington ingin Saudi segera melakukan normalisasi hubungan dengan Israel.
Namun begitu, desakan itu ditolak mentah-mentah oleh MBS.
Dia dengan tegas menegaskan kembali posisi negaranya yang sudah lama dipegang. Bagi Saudi, jalan menuju normalisasi apa pun dengan Tel Aviv hanya bisa terbuka jika Israel menerima solusi dua negara. Syarat utamanya adalah pembentukan negara Palestina yang merdeka berdasarkan perbatasan tahun 1967, dengan Yerusalem Timur sebagai ibu kotanya.
"Putra Mahkota Saudi menanggapi dengan tegas permintaan Trump dan memegang teguh posisinya," tulis Axios dalam laporannya.
Dua pejabat AS yang hadir bahkan menggambarkan MBS sebagai "pemimpin yang kuat" dalam momen itu.
Menurut laporan yang sama, Trump-lah yang mengangkat isu tersebut selama pertemuan pada 18 November itu. Desakannya terus mengeras.
Akibatnya, suasana pun berubah tegang. Saat tekanan dari Trump makin menjadi, MBS membalas dengan tekanan yang sama kuatnya. Sebuah sikap yang jelas menunjukkan bahwa untuk urusan ini, Saudi tidak mau berkompromi.
Laporan ini, seperti diberitakan Al Arabiya, muncul pada Rabu (26/11/2025), mengonfirmasi ketegangan yang terjadi di balik pintu tertutup Gedung Putih.
Artikel Terkait
Pengguna KA Lembah Anai Melonjak 206 Persen, Layani 130 Ribu Pelanggan Hingga Mei 2026
Prabowo Bahas Peluang Ekonomi Baru dan Percepatan Transformasi BUMN Bersama Rosan Roeslani
Pria di Gowa Terima Kaki Palsu dari Kemensos setelah 11 Tahun Hidup dengan Keterbatasan Akibat Serangan Buaya di Malaysia
Menteri PU Pastikan Dukung Pembangunan Huntara dan Perbaikan Jembatan Pascagempa Sigi