Lalu, dari mana asal defisit ini? Rinciannya begini. Di satu sisi, pendapatan pemerintah sebenarnya mengalami lonjakan yang cukup menggembirakan. Naik 24 persen year-on-year menjadi USD404 miliar. Tapi di sisi lain, pengeluaran pemerintah juga ikut meroket, bahkan lebih cepat. Pengeluaran membengkak 18 persen menjadi USD689 miliar. Pengeluaran yang lebih besar dari pemasukan inilah yang akhirnya membentuk lubang defisit tersebut.
Kalau kita lihat gambaran besarnya, situasi tahun fiskal sebelumnya justru lebih baik. Defisit anggaran secara keseluruhan untuk tahun fiskal 2025 justru turun dua persen, menjadi USD1,775 triliun. Penurunan ini tak lepas dari kontribusi pendapatan tarif yang memecahkan rekor.
Kebijakan tarif yang digulirkan Presiden Donald Trump di awal 2025 rupanya membawa dampak. Dia mengumumkan sederet tarif baru yang tidak hanya menyasar mitra dagang tradisional, tetapi juga menjangkau produk-produk strategis seperti baja dan sektor otomotif.
Artikel Terkait
IMF Desak AS Kurangi Pembatasan Perdagangan demi Stabilitas Global
KAI Ingatkan Batas Ukuran dan Tarif Kelebihan Bagasi Kereta Jelang Mudik
Kemensos: 90% Bansos Reguler Tersalur, Rp632 Miliar Dikucurkan untuk Korban Bencana Sumatera
BRI Salurkan KUR Rp178,8 Triliun dan KPR Subsidi Rp16,6 Triliun Sepanjang 2025