Luhut Minta Bali Deportasi Turis Asing Tak Berkualitas

- Kamis, 26 Februari 2026 | 13:45 WIB
Luhut Minta Bali Deportasi Turis Asing Tak Berkualitas

Bali harus lebih ketat lagi memilih turis asing yang datang. Itulah inti pernyataan tegas Luhut Binsar Pandjaitan, sang Ketua Dewan Ekonomi Nasional. Menurutnya, wisatawan yang dianggap 'tidak berkualitas' sebaiknya langsung dideportasi saja dari Pulau Dewata.

"Jadi Bali harus tertib," tegas Luhut, dalam keterangannya Kamis lalu (26/2/2026).

"Turis-turis yang tidak berkualitas, kita sudah koordinasikan waktu saya Menko Marvest, itu dideportasikan saja dari sini."

Luhut tak sekadar bicara. Ia punya daftar alasan yang jelas. Siapa saja yang berpotensi diusir? Misalnya, pelancong yang punya masalah hukum di Indonesia. Mulai dari kasus narkoba, terlibat perkelahian, sampai yang main-main dengan investasi bodong yang merugikan usaha kecil warga lokal.

Bagi Luhut, jumlah bukan segalanya. "Kita, kalau berkurang 10 ribu orang lagi (wisatawan), itu tidak akan membuat Bali jadi masalah," ujarnya. Bali itu istimewa, dicintai banyak orang. Maka, biarkan yang datang adalah mereka yang benar-benar menghargai keindahan dan ketertiban pulau ini.

Namun begitu, persoalan di Bali tak cuma soal turis. Luhut juga menyoroti kekacauan lain: alih fungsi lahan yang semrawut. Ia mendorong agar pengawasan diperketat, kali ini dengan memanfaatkan teknologi digital. Dengan sistem yang canggih, praktik nakal menyimpan lahan akan semakin sulit dilakukan.

"Masalah ketertiban, alih fungsi lahan, dengan digitalisasi tidak akan bisa lagi bermain-main," jelasnya.

Lalu apa konsekuensinya bagi yang melanggar? "Dan nanti bagaimana kira-kira, mungkin nanti penalti solusinya," tambah Luhut. Ia mengingatkan, mulai sekarang semua pihak harus waspada. Bagi yang nekat mengalihfungsikan lahan secara tidak benar, sanksi sudah menunggu. "Nanti penyesuaian di sini," sambungnya, menutup pernyataannya.

Editor: Dewi Ramadhani

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar