Perekonomian Singapura ternyata jauh lebih kuat dari yang diperkirakan banyak pihak. Data terbaru menunjukkan Produk Domestik Bruto (PDB) negara itu melesat 4,2 persen pada kuartal III-2025 dibandingkan periode sama tahun sebelumnya. Angka ini benar-benar di luar dugaan.
Padahal, pemerintah sebelumnya hanya memprediksi pertumbuhan sekitar 2,9 persen untuk periode Juli-September. Ternyata realitanya jauh lebih baik. Tak cuma secara tahunan, pertumbuhan kuartalan juga cukup menggembirakan di level 2,4 persen dibanding triwulan sebelumnya.
Melihat kinerja yang begitu solid, Kementerian Perdagangan pun mengambil langkah taktis. Mereka menaikkan proyeksi pertumbuhan PDB untuk tahun ini menjadi sekitar 4,0 persen. Padahal sebelumnya, perkiraan mereka hanya berkisar antara 1,5 hingga 2,5 persen. Perubahan yang cukup signifikan, bukan?
Lalu bagaimana dengan tahun depan? Untuk 2026, kementerian memperkirakan pertumbuhan akan berada di rentang 1,0 hingga 3,0 persen.
"Kondisi ekonomi global ternyata lebih tangguh dari yang diperkirakan," begitu penjelasan resmi dari kementerian.
Di sisi lain, Otoritas Moneter Singapura bulan lalu memilih bertahan dengan kebijakan moneternya yang sekarang. Keputusan ini diambil melihat ekonomi negara-kota itu tetap menunjukkan ketahanan meski ada berbagai tantangan eksternal. Salah satu yang paling mencolok tentu saja kebijakan tarif impor dari Amerika Serikat.
Memang, ekspor Singapura ke AS dikenai tarif 10 persen lebih rendah daripada yang harus dibayar negara-negara tetangganya di Asia Tenggara. Tapi jangan salah, ancaman tetap ada. Pungutan sektoral, termasuk tarif fantastis 100 persen untuk obat-obatan bermerek, masih menjadi bayang-bayang yang mengintai.
Artikel Terkait
Rusia Masuk Daftar Hitam PBB atas Dugaan Kekerasan Seksual di Zona Konflik, Moskow Protes
AS Beri Tarif Impor Rendah ke Indonesia, Apresiasi Langkah Antikerja Paksa
Anthropic Serukan Jeda Sementara Pengembangan AI Canggih demi Keselamatan Global
Pemprov DKI Buka 2.843 Lowongan Padat Karya dengan Gaji Setara UMP