Amien Rais Sebut Reformasi Polri Prabowo Hanya Kosmetik, Ini Buktinya

- Rabu, 12 November 2025 | 12:25 WIB
Amien Rais Sebut Reformasi Polri Prabowo Hanya Kosmetik, Ini Buktinya
Kritik Amien Rais Terhadap Reformasi Polri Prabowo: Hanya Kosmetika?

Amien Rais Sebut Reformasi Polri Prabowo Hanya "Kosmetika" Belaka

Ketua Majelis Syura Partai Ummat, Prof. Amien Rais, melontarkan kritik pedas terhadap agenda reformasi Kepolisian Republik Indonesia (Polri) yang diusung oleh pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Menurut Amien, upaya reformasi tersebut dinilai hanya sebagai perubahan kosmetik dan tidak menyentuh akar permasalahan struktural yang sebenarnya.

Dinamika Awal: Keinginan Prabowo vs. Langkah Cepat Kapolri

Amien Rais mengungkap sebuah dinamika politik menarik yang terjadi antara Presiden Prabowo dan Kapolri Listyo Sigit Prabowo. Dalam paparannya, disebutkan bahwa sebelum dilantik sebagai presiden pada 18 September 2024, Prabowo telah menyampaikan keinginannya untuk menempatkan institusi Polri langsung di bawah kendali presiden, bukan di bawah kementerian lain.

Namun, langkah Kapolri justru dinilai mendahului presiden. Pada 17 September 2025, Listyo Sigit dikabarkan telah membentuk tim transformasi reformasi Polri internal melalui Surat Perintah Kapolri. Tim ini beranggotakan 52 perwira tinggi kepolisian. Amien menafsirkan langkah ini sebagai bentuk "perlawanan" halus yang menunjukkan bahwa Polri memiliki caranya sendiri dalam mengatur reformasi internal.

Komisi Reformasi Polri Prabowo dan Respons Amien Rais

Presiden Prabowo baru melantik Komisi Percepatan Reformasi Polri pada 7 November. Komisi ini beranggotakan sepuluh tokoh hukum ternama, termasuk Jimly Asshiddiqie sebagai ketua, Yusril Ihza Mahendra, Tito Karnavian, dan Mahfud MD.

Terhadap komposisi tim ini, Amien Rais menyampaikan keraguan yang mendalam. Dengan nada retoris, ia mempertanyakan optimisme publik terhadap kinerja tim reformasi tersebut. Kritiknya diperkuat dengan mengutip sejumlah pendapat pengamat yang memprediksi bahwa reformasi hanya akan mempertahankan status quo dan bukan perubahan mendasar.

Reformasi Polri Dinilai Hanya Permainan Lama

Inti kritik Amien Rais adalah tuduhan bahwa reformasi Polri di bawah Prabowo hanyalah sandiwara. Ia menggunakan istilah "kosmetika" untuk menggambarkan bahwa yang terjadi hanyalah polesan permukaan tanpa menyentuh substansi kebobrokan yang ada.

Amien juga menyitir pepatah Inggris, "The players change, the game is still the same," yang berarti para pemain mungkin berganti, tetapi permainannya tetaplah sama. Menurutnya, ini menggambarkan situasi di tubuh Polri di mana perubahan hanya terjadi di tingkat personel, namun sistem dan kultur yang bermasalah tetap dipertahankan.

Pertanyaan tentang Ketegasan Prabowo dan Bayangan Kekuasaan Lama

Amien Rais lebih lanjut mempertanyakan ketegasan Presiden Prabowo. Ia menilai Prabowo bersikap terlalu lembut dan akomodatif terhadap keinginan duet Kapolri Listyo Sigit dan Tito Karnavian. Bahkan, Amien menyebut bahwa Prabowo tampaknya belum sepenuhnya lepas dari bayang-bayang kekuasaan pemerintahan sebelumnya yang seharusnya sudah tidak berpengaruh.

Dengan mengutip pepatah Jawa "mikul dhuwur mendem jero", Amien menyampaikan bahwa terhadap penipu ulung, tidak perlu dijunjung tinggi, melainkan harus "dikubur dalam-dalam". Pernyataan penutupnya bernada sarkastis, mengisyaratkan keraguan akan keberanian Prabowo untuk melakukan pembersihan yang sesungguhnya di tubuh Polri.

Kritik tajam dari politisi senior ini menyiratkan pesimisme yang dalam terhadap prospek reformasi Polri, yang menurutnya telah menunjukkan tanda-tanda kegagalan sejak awal di bawah kepemimpinan Prabowo Subianto.

Editor: Bayu Santoso

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar