Pendidikan Agama Setengah-Setengah dan Kepatuhan Tanpa Nalar
Pandangan Yudo kemudian meluas ke sistem pendidikan Indonesia secara umum, yang dinilainya mengajarkan kepatuhan tanpa pemahaman kritis.
Ia berpendapat bahwa di pesantren, ilmu agama seringkali diajarkan hanya setengah-setengah. Sementara di sekolah biasa, guru-guru mengajarkan ilmu agama tanpa pemahaman yang mendalam.
"Di sekolah biasa juga gurunya ngajarin tapi tidak memahami apa yang diajarkan. Selalu diajarkan untuk patuh tanpa mengetahui mengapa saya harus patuh," lanjutnya.
Dampak di Dunia Kerja dan Solusi Literasi Finansial
Menurut Yudo, budaya patuh tanpa nalar ini memiliki dampak negatif jangka panjang ketika seseorang memasuki dunia kerja, membuat mereka rentan terhadap eksploitasi.
"Ketika kalian sudah patuh, kalian akan dijadikan budak oleh atasan kalian pada saat di dunia kerja," tegasnya.
Ia menutup pandangannya dengan menekankan pentingnya literasi finansial dan investasi sebagai jalan keluar dari siklus kerja tanpa henti yang dapat mengabaikan ibadah dan waktu keluarga.
"Tanpa literasi finansial yang jelas dan investasi, Anda justru meninggalkan ibadah wajib dan waktu bersama keluarga. Lalu, Anda kerja terus sampai mati," pungkas Yudo Sadewa.
Sumber artikel asli: Suara.com
Artikel Terkait
Dari Suara Aneh hingga Laporan Hukum: Kronologi Bocornya CCTV Rumah Inara Rusli
Jangan Beli Buku hingga Jauhkan Sapu: Pantangan Unik Sambut Imlek 2026
Dedi Mulyadi Siapkan 3.000 Lowongan Kerja, Utamakan Lulusan SMK Jabar
Dedi Mulyadi Dikritik Usai Turun Langsung Evakuasi Korban Longsor