Harga Emas Bangkit Lebih dari 1% Didorong Ketegangan Timur Tengah dan Pelemahan Dolar

- Kamis, 05 Maret 2026 | 07:00 WIB
Harga Emas Bangkit Lebih dari 1% Didorong Ketegangan Timur Tengah dan Pelemahan Dolar

Harga emas bangkit lagi di tengah ketegangan global. Rabu (4/3/2026) lalu, logam kuning itu rebound cukup signifikan, mencatat kenaikan lebih dari 1 persen ke level USD 5.140,94 per troy ons. Ini jadi pemulihan yang disambut baik, mengingat sehari sebelumnya harganya sempat ambles lebih dari 4 persen.

Pemicunya? Seperti biasa, sentimen pasar digerakkan oleh dua hal utama. Di satu sisi, konflik di Timur Tengah yang kian panas memicu gelombang pelarian ke aset-aset safe haven. Di sisi lain, dolar AS yang sempat melonjak akhirnya jeda, memberikan ruang napas untuk emas.

Pelemahan dolar itu sendiri punya efek langsung. Logam yang berdenominasi greenback otomatis jadi lebih terjangkau bagi investor yang memegang mata uang lain. Situasi ini dimanfaatkan banyak pihak untuk masuk kembali.

Menurut Peter Grant, Wakil Presiden dan Analis Senior Logam di Zaner Metals, koreksi dolar memberi dukungan nyata.

"Faktor fundamental makro sebenarnya masih cukup solid untuk emas," katanya, seperti dikutip Reuters. "Selama perang dengan Iran masih berlangsung, itu akan tetap menjadi penopang."

Grant juga tak menampik bahwa volatilitas masih mengintai. Meski begitu, nada bicaranya tetap optimis. "Ada risiko gejolak berlanjut. Tapi saya tetap bullish dan melihat peluang tercapainya rekor tertinggi baru sepanjang masa," tambahnya.

Konflik AS-Iran sendiri memang semakin meluas. Insiden terbaru melibatkan kapal selam AS yang menenggelamkan kapal perang Iran di perairan lepas Sri Lanka disebutkan menewaskan sedikitnya 80 orang. Belum lagi rudal balistik Iran yang ditembakkan ke arah Turki dihancurkan oleh sistem pertahanan udara NATO. Ketegangan seperti inilah yang selalu jadi 'makanan' bagi emas.

Nah, di tengah semua ini, data ekonomi AS ternyata cukup mixed. Laporan ADP menunjukkan payroll sektor swasta naik lebih tinggi dari perkiraan di bulan Februari. Tapi, data bulan Januari-nya justru direvisi turun secara tajam. Hasilnya, fokus pasar kini beralih ke laporan ketenagakerjaan resmi (NFP) yang akan dirilis Jumat mendatang.

Para ekonom yang dijamah Reuters memprediksi penambahan sekitar 59.000 pekerjaan non-pertanian bulan lalu, melambat dari kenaikan 130.000 di Januari. Data ini nantinya tentu akan jadi bahan pertimbangan baru bagi The Fed.

Emas bukan satu-satunya yang merasakan angin segar. Logam-logam berharga lain juga ikut merangkak naik. Perak spot menguat 1,3 persen ke USD 83,07 per ons, berusaha bangkit dari kejatuhan lebih dari 8 persen di sesi sebelumnya. Platinum bahkan naik 2,8 persen ke USD 2.141,71, sementara paladium bertambah 1,2 persen ke USD 1.667,51.

Untuk platinum, ceritanya agak menarik. World Platinum Investment Council memproyeksikan pasar global logam ini menuju defisit tahunan keempat berturut-turut pada 2026. Artinya, tekanan pada sisi pasokan bisa menjadi faktor pendukung harga ke depan.

Jadi, rebound hari Rabu itu bukan sekadar koreksi teknikal belaka. Ada kombinasi antara sentimen geopolitik yang panas, dinamika dolar, dan ekspektasi kebijakan yang menciptakan arena trading yang seru. Menunggu Jumat nanti, tentu saja.

Editor: Agus Setiawan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar