Sudah lebih dari setahun Program Makan Bergizi (MBG) berjalan. Tepatnya, sejak diluncurkan awal Januari 2025 lalu. Perkembangannya? Cukup pesat, dan yang menarik, program ini ternyata tak cuma sekadar urusan isi piring. Dampaknya merembet ke hal lain, seperti membuka lapangan kerja di banyak daerah.
Wakil Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Sony Sonjaya, mengaku perkembangan MBG berlangsung cepat dan melibatkan banyak sekali partisipasi masyarakat.
“Alhamdulillah tanpa terasa sekarang MBG sudah 1 tahun 3 bulan,” ujar Sony dalam keterangannya, Jumat (17/4/2026).
Menurutnya, capaian yang paling konkret adalah terbangunnya lebih dari 26.000 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi atau SPPG. Data terbaru bahkan menyebut angkanya sudah mencapai 27.066 unit yang tersebar di seluruh Indonesia. Keberadaan titik-titik layanan inilah yang menjadi tulang punggung program.
“Kalau berbicara tentang pemberdayaan masyarakat, wujudnya terlihat dari 26.663 SPPG yang semuanya melibatkan masyarakat. Inilah cerdasnya pemerintah,” tuturnya.
Bayangkan saja, dari operasional SPPG tersebut, tercatat ada sekitar 1,18 juta relawan yang terlibat aktif. Angka yang tidak kecil.
Di sisi lain, dari segi penerima manfaat, program ini telah menjangkau 62,35 juta jiwa. Rinciannya, sekitar 49,64 juta adalah peserta didik, sementara sisanya, 12,7 juta, berasal dari masyarakat umum yang bukan peserta didik.
Namun begitu, efeknya ternyata lebih dalam dari sekadar angka penerima bantuan. Dampak ekonominya meluas lewat keterlibatan pelaku usaha lokal. Mereka bertindak sebagai pemasok bahan pangan untuk program ini.
Sampai saat ini, ada 116.465 supplier yang ikut serta. Mereka ini terdiri dari ribuan koperasi, lebih dari seribu BUMDes, puluhan ribu pelaku UMKM, serta supplier lainnya. Keterlibatan mereka, kata Sony, menunjukkan efek berganda atau "multiplier effect" yang nyata.
“Ini adalah bagaimana program MBG memberikan multiplier effect, salah satunya melalui pemberdayaan masyarakat,” ucapnya.
Jadi, capaian setahun lebih ini membuktikan satu hal: MBG bukan program yang sempit. Fokusnya memang pemenuhan gizi, tapi sekaligus mendorong geliat ekonomi akar rumput. Ke depan, tentu diharapkan dukungan semua pihak bisa mengoptimalkan program ini agar manfaatnya terus berkelanjutan.
Artikel Terkait
Iran Buka Selat Hormuz untuk Kapal Sipil dengan Rute Tertentu, Larang Kapal Perang Asing
Berkas Perkara Ijazah Palsu Lima Tersangka Dilimpahkan ke Kejaksaan Tinggi DKI
Iran Buka Akses Penuh Selat Hormuz Selama Gencatan Senjata Lebanon Berlangsung
Kedatangan Patrick Kluivert ke Jakarta Banjir Sambutan, Latihan Barcelona Legends Terganggu