Tapi sayang, upaya itu tak membuahkan hasil. Komunikasi justru terputus di saat-saat kritis itu. ATC langsung menaikkan statusnya ke fase darurat atau DETRESFA.
Kini, titik koordinat terakhir pesawat 04°57'08" S 119°42'54" E menjadi pusat operasi. Pencarian difokuskan di kawasan pegunungan kapur Bantimurung, Desa Leang-leang. AirNav bahkan telah menyiapkan pemberitahuan khusus (NOTAM) untuk mendukung operasi SAR.
“Koordinasi intensif terus dilakukan dengan semua pihak terkait, termasuk Basarnas dan TNI AU, untuk memastikan penanganan berjalan optimal,” tambah Lukman.
Di sisi lain, Basarnas Makassar bergerak cepat. Mereka langsung menuju lokasi berdasarkan koordinat terakhir. Tim SAR dikerahkan dalam beberapa regu; regu awal untuk penilaian cepat, diikuti personel tambahan untuk memperluas pencarian. Totalnya, sekitar 40 personel gabungan turun ke lapangan.
Sementara itu, laporan dari pendaki semakin menguatkan kekhawatiran. Seorang pendaki di kaki Gunung Bulusaraung, Kabupaten Pangkep, tak hanya menemukan serpihan logam, tetapi juga merekam potongan puing yang tampak hangus terbakar.
Mendengar laporan itu, BPBD Pangkep segera bertindak.
Enam anggota mereka diterjunkan untuk memverifikasi temuan tersebut di lokasi.
Hingga saat ini, operasi pencarian dan penyelidikan masih terus berlanjut. Suasana tegang menyelimuti kawasan, sementara harapan untuk menemukan selamat masih tetap dijaga.
Artikel Terkait
Dua Pendaki Saksikan Ledakan Pesawat KKP di Lereng Bulusaraung
Kemarahan Dedi Mulyadi di Gunung Ciremai: Hutan Bukan Tempat Usaha!
Kisah Abah Aloh dan Puluhan Korban Lain yang Masih Menanti Bantuan di Sukabumi
Pejabat Kementerian UMKM Tewas dalam Kecelakaan Maut di Tol Pejagan-Pemalang