Yerusalem Suasana mencekam masih menyelimuti kawasan ini. Memasuki hari kelima, konflik bersenjata antara Israel dan Iran justru kian meluas. Rabu dini hari tadi, ledakan-ledakan keras dilaporkan mengguncang Teheran dan Yerusalem, menandai eskalasi yang semakin berbahaya.
Serangan udara Israel, yang difokuskan pada fasilitas militer dan logistik Iran, mendapat balasan yang tak kalah keras. Iran tak hanya meluncurkan puluhan rudal balistik. Mereka juga mengerahkan sejumlah besar pesawat nirawak, atau drone, yang jangkauannya merambah hingga ke kawasan Teluk. Bahkan, menurut sejumlah laporan, salah satu serangan menghantam kompleks Kedutaan Besar Amerika Serikat di Arab Saudi.
Militer Israel mengonfirmasi operasi mereka bertujuan melumpuhkan kemampuan rudal Iran. Tapi langkah itu justru memicu respons yang lebih luas.
Korban jiwa dari hari ke hari terus bertambah. Data yang berhasil dikumpulkan menunjukkan angka yang memilukan. Hampir 800 orang dilaporkan tewas di Iran. Sementara di Lebanon, korban mencapai 50 jiwa, dan di Israel 11 orang. Meski sistem pertahanan udara Israel diklaim berhasil mencegat banyak rudal, nyawa tetap melayang.
Dampaknya pun mulai menyentuh personel internasional. Pentagon baru saja mengidentifikasi empat dari enam anggota layanan AS yang tewas dalam serangan drone di Kuwait, Selasa lalu.
Di sisi lain, konflik ini jelas tidak terisolasi. Di Lebanon, kelompok Hizbullah terus menembakkan rudal ke Israel, yang dibalas dengan serangan udara ke Beirut. Mobilisasi pasukan di perbatasan selatan Lebanon juga meningkat, memperluas titik api potensial.
Guncangan ekonomi global sudah terasa. Rantai pasok dunia kacau balau. Jalur pelayaran utama terganggu, penerbangan dibatalkan. Harga minyak mentah melonjak tajam karena kekhawatiran produksi di Teluk akan terpengaruh. Pasar modal pun ikut kolaps, dengan indeks saham di berbagai bursa utama dunia anjlok.
Di Washington, kebijakan pemerintahan Trump menyisakan tanda tanya besar. Meski serangan awal AS-Israel berhasil menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, nada pernyataan pejabat kini lebih berhati-hati.
Presiden Donald Trump sendiri memberikan isyarat menarik.
"Seseorang dari dalam pemerintahan Iran mungkin adalah sosok yang paling tepat untuk memegang kendali kekuasaan setelah perang ini berakhir,"
Ucapannya yang dikutip AP News itu terasa seperti pergeseran dari retorika sebelumnya yang mendorong perubahan rezim dari luar. Seolah ada pengakuan bahwa situasinya terlalu rumit untuk solusi sederhana.
Di lapangan, situasi tetap sangat cair dan tidak bisa diprediksi. Mobilisasi militer di berbagai perbatasan strategis Timur Tengah terus berlangsung, dan ancaman konflik yang lebih luas masih sangat nyata. Semuanya bergerak cepat, sementara dunia menahan napas.
Ditulis oleh: Fityan
Editor: Redaktur TVRINews
Artikel Terkait
Pengelola Warung Mie Babi di Sukoharjo Siap Mediasi Usai Penolakan Warga
Mantan Suami Siri Diduga Sakit Hati, Tewaskan Perempuan di Serpong
Ribuan Pelari Siap Ramaikan Kemala Run 2026 di Bali
Jusuf Kalla Bantah Tuduhan Penistaan Agama, Klaim Ceramahnya Dipotong dan Disalahartikan