Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, benar-benar geram. Saat inspeksi mendadak ke kaki Gunung Ciremai di Kuningan, Kamis lalu, pemandangan yang menyambutnya adalah hamparan lahan gundul. Amarahnya langsung tertuju pada Kepala Balai Taman Nasional Gunung Ciremai (BTNGC), Toni Anwar, yang saat itu berada di lokasi.
Inspeksi itu sendiri berlangsung tanpa pemberitahuan. Dedi, yang akrab disapa KDM, hanya didampingi Sekda Kuningan, U Kusmana. Bupati dan wakilnya tak terlihat. Rupanya, kunjungan spontan ini justru membongkar persoalan yang selama ini mungkin tersembunyi.
“Gundul itu, Pak!” seru Dedi dengan nada tinggi, tak bisa menyembunyikan kekecewaannya.
“Nanam pohon jangan cuma seremonial, habis itu ditinggalkan. Ya ‘moal jadi’ (tidak akan tumbuh),” tambahnya, mengkritik keras pola penghijauan yang dinilainya sekadar pencitraan.
Bagi Dedi, berdebat soal kewenangan adalah jalan buntu. Yang penting tindakan. “Pertanyaan saya, nanam pohon di daerah gundul itu kewenangan siapa? Kenapa dibiarkan?” ujarnya. Meski mengakui penanaman pohon di kawasan konservasi bukan wewenangnya, ia bersikeras punya tanggung jawab moral. Maka, demi memulihkan Ciremai, ia tak segan mengerahkan anggaran dan melibatkan warga lokal sebagai tenaga kontrak lingkungan.
“Saya nanam pohon dan menggaji rakyat di TNGC, kewenangan saya bukan? Bukan. Tapi saya punya tanggung jawab terhadap tanah dan air Jabar,” tegasnya.
Artikel Terkait
Kisah Abah Aloh dan Puluhan Korban Lain yang Masih Menanti Bantuan di Sukabumi
Pejabat Kementerian UMKM Tewas dalam Kecelakaan Maut di Tol Pejagan-Pemalang
Dedi Mulyadi Sindir Penjaga Hutan: Lebih Baik Dijaga Kuntilanak!
Laras Faizati Bebas Bersyarat, Karier Cemerlang di AIPA Terhenti