Menurut pengamat Timur Tengah Faisal Assegaf, ada perbedaan yang cukup mencolok dalam sikap negara-negara Muslim terhadap Palestina. Banyak yang menyatakan dukungan, tapi posisi Iran terlihat lebih tegas dan berprinsip. "Iran itu pro-Palestina sekaligus anti-Zionis," tegasnya. Pernyataan permusuhan terhadap Israel ini sudah menjadi bagian dari kebijakan luar negeri mereka sejak Revolusi Islam 1979.
Dengan mengambil sikap seperti itu, otomatis hubungan dengan Amerika Serikat pun menjadi bermusuhan. Hal ini disampaikan Faisal dalam sebuah diskusi.
Di sisi lain, negara-negara Islam lain yang juga pro-Palestina sering kali terlihat abu-abu. Mereka tidak serta merta memusuhi Israel. Alhasil, normalisasi hubungan seperti dalam Perjanjian Ibrahim pun terjadi. Israel yang menjajah Palestina akhirnya tidak selalu dipandang sebagai musuh.
Sikap konsisten Iran inilah, kata Faisal, yang membuatnya kerap menjadi sasaran diskreditasi dan propaganda. Isu nuklir adalah salah satu senjata andalan untuk menyerang reputasi Tehran. Padahal, fakta sejarah berbicara lain. Setelah revolusi berhasil, pemimpin tertinggi Iran kala itu, Ayatullah Imam Khomeini, secara tegas mengharamkan senjata nuklir.
"Dan itu belum pernah dicabut sampai pemimpin tertinggi kemarin meninggal sampai pekan lalu. Jadi, propaganda itu sebenarnya sudah jelas bahwa itu propaganda palsu, karena Iran sudah punya fatwa itu dan itu ditaati sampai sekarang," ujar Faisal.
Artikel Terkait
Harga Emas Pegadaian Stagnan, Jual-Beli Tak Berubah per 15 Maret 2026
Harga Emas Antam Stagnan, Patokan Masih Rp2,9 Juta per Gram
Khalil dan Appank Juara Liga Ramadan Domino IKA Unhas 2026
Ratusan Pemudik Menginap di Pelabuhan Samarinda Demi Tak Ketinggalan Kapal