tutur Theo.
Lantas, apa artinya semua ini? Theo melihat ini sebagai bukti nyata bahwa konflik bersenjata di Timur Indonesia belum usai. Pemerintah pusat, pimpinannya Prabowo Subianto, sepertinya perlu menyadari fakta itu. Contohnya jelas: kunjungan kenegaraan Wapres ke Papua akhirnya urung sampai ke Yahukimo. Alhasil, beliau pulang ke Jakarta dengan perintah untuk balik.
“Seharusnya Wapres berkunjung saja ke Yahukimo kalau merasa daerah itu aman, karena pandangan orang Jakarta dan intelijen menganggap Papua aman. Kalau Wapres berangkat ke Jakarta tanpa berkunjung ke Kabupaten Yahukimo berarti Papua tidak aman, padahal pemerintah pusat dan intelijen menilai aman dan terkendali. Kok tiba-tiba Wapres balik ke Jakarta?”
Hesegem mempertanyakan hal ini. Baginya, ini menunjukkan kerja intelijen yang dipertanyakan profesionalismenya. Kalau Yahukimo memang rawan, kenapa jadwal kunjungan tetap dipaksakan? Ia menduga agenda kunjungan ini lebih berkaitan dengan urusan infrastruktur dan kepentingan Jakarta, bukan untuk menyentuh akar konflik atau persoalan HAM di Papua.
“Perlu juga diketahui bahwa pembangunan infrastruktur silakan saja dibangun, tetapi jika daerah tidak aman pasti ada korban, dan proses pekerjaan akan gagal,” tambahnya. Ia mengingatkan pengalaman kelam para pekerja yang dibunuh atau dieksekusi oleh TPNPB, yang seolah tak pernah dievaluasi serius oleh pemerintah.
Pada akhirnya, Theo Hesegem menilai kunjungan seperti ini cuma seremonial belaka. Sekadar basa-basi politik. Atau seperti katanya dengan nada sinis, “Bapak datang, anak senang.”
Artikel Terkait
Guru di Jambi Dikeroyok Murid, Tamparan Pembelajaran Picu Kericuhan
Said Iqbal Tuding Dedi Mulyadi Sibuk Ngonten, Abaikan Aspirasi Buruh
Sri Mulyani Buka Babak Baru, Masuk Dewan Pengurus Gates Foundation
Gaya Hidup Mewah di Instagram, Jerat Rp 3 Miliar untuk Korban Akademi Crypto