LPSK Bongkar Dugaan Kekerasan Kronis Ayah Kandung dalam Kasus Kematian Bocah Sukabumi

- Senin, 02 Maret 2026 | 13:10 WIB
LPSK Bongkar Dugaan Kekerasan Kronis Ayah Kandung dalam Kasus Kematian Bocah Sukabumi

Dalam rapat di Komisi III DPR kemarin, suasana cukup tegang. Wakil Ketua LPSK, Sri Suparyati, membongkar temuan mereka soal kasus yang menyayat hati: kematian bocah NS di Sukabumi. Bocah itu diduga menjadi korban penganiayaan ibu tirinya. Tapi, LPSK tak cuma menyoroti sosok ibu tiri. Mereka justru meminta polisi jeli mengamati sang ayah, yang berinisial AS.

Menurut Sri, ayah korban ini ternyata anggota geng. Ia punya catatan buruk, kerap mengancam mantan istrinya, Lisnawati.

“Kami juga menginformasikan bahwa mantan suami Ibu Lisna ini kebetulan adalah anggota geng yang menurut saya juga patut untuk diatensi lebih lanjut kepada bapak kepolisian. Ya khususnya karena ini, karena ini kaitannya dengan ancaman yang seringkali diterima oleh Ibu Lisna,”

Ujarnya dalam RDPU di Senayan, Jakarta, Senin lalu.

Nah, di sisi lain, LPSK mendesak polisi untuk menelusuri latar belakang AS lebih dalam. Dari hasil wawancara mendalam dengan sejumlah pihak, tim mereka mendapati fakta yang lebih pahit. Kekerasan terhadap NS ternyata bukan hal baru. Bukan cuma terjadi belakangan ini.

“Dari hasil wawancara tim pada saat setelah asesmen kami mendapatkan beberapa informasi yang salah satunya adalah kami menduga dan kami mendesak juga kepolisian penyidik untuk mengecek background dalam latar belakang dari ayah Nizam,” tegas Sri.

Ia lalu merinci dugaan tindak kekerasan yang dilakukan AS terhadap anak kandungnya sendiri. Sungguh miris. Kekerasan dalam rumah tangga itu disebutkan sudah berlangsung sejak NS masih kecil sekali.

“Karena dari informasi yang didapatkan tindakan kekerasan sebenarnya sudah diterima oleh korban itu sejak korban masih kecil. Jadi dari mulai yang disundut rokok, kemudian yang disiram pake air, yang dicelupkan ke dalam bak mandi. Jadi dari kecil itu ternyata korban itu sudah mengalami tindak kekerasan yang begitu sering dan bukan hanya kepada Nizam tapi juga kepada ibu Lisna,”

Paparnya dengan nada prihatin.

Ia kemudian menambahkan, pola kekerasan dalam keluarga ini tampaknya sudah mendarah daging. “Jadi kami melihat bahwa kekerasan dalam rumah tangga dan keluarga ini memang sudah cukup sering dilakukan sehingga tidak menutup kemungkinan apa yang disampaikan dari KPAI penting untuk dilihat lebih jauh,” imbuhnya.

Intinya, LPSK mendesak penyidik untuk membongkar semua lini. Tak cuma pelaku langsung, tapi juga lingkungan yang mungkin membiarkan siklus kekerasan ini berputar begitu lama. Kasus ini, jelas lebih rumit dari yang terlihat di permukaan.

Editor: Dewi Ramadhani

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar