Dari Pyongyang, kecaman keras datang menyusul serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel ke Iran. Korea Utara tak ragu menyebutnya sebagai "agresi ilegal", sebuah pelanggaran nyata terhadap kedaulatan nasional sebuah negara.
Pernyataan resmi itu disiarkan oleh Korean Central News Agency (KCNA) pada Senin, 2 Maret 2026. Lewat juru bicara Kementerian Luar Negeri, rezim Kim menyatakan tindakan militer semacam itu sama sekali tak bisa dibenarkan. Pokoknya, dalam kondisi apa pun.
Menurut mereka, operasi militer AS sebenarnya sudah "dalam kisaran ekspektasi". Bagi Pyongyang, ini adalah konsekuensi yang niscaya dari sifat AS yang mereka gambarkan hegemonik dan bertingkah laku bak gangster. Jadi, bukan hal yang mengejutkan.
Di sisi lain, mereka juga mengecam keras apa yang disebut "perang agresi" oleh Washington dan Tel Aviv. Pernyataan itu lantas mendesak negara-negara di kawasan, plus pihak lain yang punya kepentingan sama, untuk ambil bagian. Tanggung jawab memulihkan perdamaian dan stabilitas Timur Tengah, begitu tekanannya, harus jadi prioritas bersama.
Sementara kecaman mengudara dari Korea Utara, di lapangan situasinya sudah terlanjur runyam. Militer Israel, pada Minggu, mengaku telah melancarkan serangan besar-besaran tepat di jantung Teheran.
Gelombang serangan udara skala luas itu dikabarkan menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei. Kabar ini tentu saja mengguncang.
Akibatnya, kekhawatiran akan ketidakstabilan yang meluas di Timur Tengah kian menjadi. Ketegangan antara Iran, Israel, dan sekutu-sekutu masing-masing memang sudah memanas belakangan ini. Serangan ini ibarat menyulut bensin di tengah kobaran api.
Artikel Terkait
Jembatan Peninggalan Belanda di Klaten Hidup Kembali Setelah 13 Tahun
Karnaval Paskah Semarakkan Semarang, Kibarkan Bendera Raksasa dan Semangat Kebersamaan
Pertamina Patra Niaga Raih Empat Penghargaan Indonesia WOW Brand 2026
Presiden Prabowo Tandatangani Perpres Pengelolaan Kesehatan Terpadu