Ledakan Baterai Drone Picu Kebakaran Maut di Kantor Terra Drone Kemayoran

- Rabu, 10 Desember 2025 | 19:50 WIB
Ledakan Baterai Drone Picu Kebakaran Maut di Kantor Terra Drone Kemayoran

Kebakaran dahsyat di Kemayoran, Selasa (9/12) siang itu, benar-benar menyisakan duka. Gedung kantor Terra Drone Indonesia di Cempaka Baru, Jakarta Pusat, ludes dilalap si jago merah. Korban jiwa berjatuhan sedikitnya 22 orang meninggal dunia. Ratusan lainnya berhamburan menyelamatkan diri, sementara yang luka-luka segera dilarikan ke rumah sakit. Di antara korban, ada seorang anggota polisi yang ditemukan dengan luka serius di tangannya.

Suasana saat itu kacau balau. Menurut sejumlah saksi, sebuah ledakan keras terdengar dari dalam gedung, tak lama sebelum api berkobar dan dengan cepat menjalar ke lantai lain. Dugaan sementara, ledakan itu berasal dari baterai drone yang tersimpan di sebuah ruangan. Asap tebal memenuhi koridor, membuat evakuasi jadi sangat sulit. Meski petugas pemadam berhasil mengevakuasi puluhan karyawan, banyak pula yang terjebak di dalam karena jalur penyelamatan nyaris tak terlihat.

Di Balik Asap, Jejak Panjang Terra Drone

Di balik tragedi yang viral itu, publik pun mulai menyoroti siapa sebenarnya Terra Drone. Perusahaan ini bukan pemain baru. Mereka adalah raksasa di bidang layanan drone survei udara, berbasis di Jepang dan beroperasi global sejak 2016. Di Indonesia, mereka punya peran yang cukup signifikan.

Lewat divisi Terra Agri, mereka aktif menggarap pertanian presisi. Salah satu pekerjaan mereka yang cukup dikenal adalah pemetaan dan pengelolaan lahan perkebunan kelapa sawit di Sumatra, yang sudah berjalan beberapa tahun. Bahkan pada 2021, mereka bekerja sama dengan International Finance Corporation (IFC) untuk penelitian penggunaan drone memantau petani sawit swadaya di Riau.

Namun begitu, kontribusi mereka tak cuma di sektor agrikultur. Terra Drone juga pernah terlibat dalam proyek-proyek infrastruktur strategis pemerintah. Salah satunya adalah survei udara untuk pembangunan Tol Cisumdawu di Jawa Barat, yang mencakup area sepanjang kurang lebih 30 kilometer.

Dalam proyek itu, mereka menggunakan drone canggih jenis fixed wing bernama Bramor ppX. Alat ini bisa terbang hingga tiga jam nonstop dan mengumpulkan data akurat dalam satu kali penerbangan sebuah teknologi yang diandalkan banyak kontraktor karena efisiensinya.

Nah, menariknya, tragedi kebakaran ini ikut mengingatkan publik pada kasus lain yang berkaitan dengan tol Cisumdawu. Di Pengadilan Tipikor Bandung, sidang korupsi pembebasan lahan untuk tol itu masih berlangsung sejak September 2024, melibatkan lima orang terdakwa. Meski tak ada kaitan langsung dengan kebakaran, nama proyek yang pernah disurvei Terra Drone itu kembali mencuat ke permukaan.

Sementara itu, proses duka masih berlanjut. Identifikasi korban dilakukan secara hati-hati di RS Polri Kramat Jati. Data sementara menyebut 15 perempuan dan 7 laki-laki menjadi korban meninggal. Tim masih terus menyisir reruntuhan, memastikan tak ada lagi korban yang tertinggal.

Pihak kepolisian sudah memeriksa sejumlah karyawan, termasuk staf HRD, untuk mengumpulkan keterangan. Investigasi mendalam kini fokus pada prosedur keamanan penyimpanan baterai drone dan standar operasional di perusahaan. Semua ingin tahu: apa yang sebenarnya memicu ledakan awal itu, dan bagaimana bisa api menyebar begitu cepat?

Editor: Handoko Prasetyo

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar