Lalu, bagaimana jalannya pertandingan? Italia sempat membawa angin segar. Moise Kean mencetak gol di menit ke-15, memberi harapan. Tapi harapan itu menguap perlahan.
Bosnia menyamakan kedudukan di menit ke-79 lewat Haris Tabaković. Babak tambahan pun diperlukan. Situasi makin runyam untuk Italia setelah Alessandro Bastoni diusir wasit di menit ke-42. Bertahan dengan sepuluh pemain, mereka gigih bertahan hingga adu penalti.
Dan di titik putih itulah mimpi buruk terjadi. Bosnia sempurna. Empat eksekutor mereka Tahirović, Tabakovic, Alajbegović, Bajraktarević tak ada yang gagal.
Italia? Hanya Sandro Tonali yang sukses. Tendangan Pio Esposito melambung, sementara Bryan Cristante menghantam mistar. Dan segalanya berakhir.
Krisis yang Tak Kunjung Usai
Kegagalan ini bukan sekedar insiden. Ini adalah bukti nyata krisis yang mendalam. Regenerasi pemain, sistem, hingga kebijakan sepak bola nasional kini dipertanyakan. Apa yang salah dengan calcio?
Bagi Gattuso, malam di Bosnia adalah titik balik yang pahit. Sebuah refleksi penuh penyesalan yang mungkin menentukan jalan kariernya ke depan.
Satu hal yang pasti: luka ini dalam. Sangat dalam. Italia kembali harus menunggu, merenung, dan berbenah. Menghapus trauma tiga kali gagal berturut-turut bukan pekerjaan mudah. Butuh lebih dari sekadar permintaan maaf.
Artikel Terkait
Marc Marquez Akui Kondisi Fisik Jadi Kendala Utama di Awal MotoGP 2026
Dovizioso Soroti Performa Marquez: Cedera Lama Diduga Jadi Hambatan di MotoGP 2026
Gattuso Mundur, FIGC Berguncang Usai Italia Gagal ke Piala Dunia 2026
Pelatih Dewa United Ingatkan Ivar Jenner: Panggilan Timnas Bukan Akhir Segalanya