Gennaro Gattuso sudah tidak lagi menjadi pelatih Timnas Italia. Kabar ini resmi dikonfirmasi oleh FIGC, federasi sepak bola negara itu, setelah Italia gagal total di final play-off Piala Dunia 2026. Kontraknya diputus berdasarkan kesepakatan bersama, menandai akhir sebuah babak yang singkat dan penuh kekecewaan.
Puncaknya adalah kekalahan dari Bosnia dan Herzegovina lewat drama adu penalti. Hasil itu sekaligus menegaskan nasib buruk Gli Azzurri: mereka akan absen lagi di panggung Piala Dunia. Ini sudah yang ketiga kalinya secara beruntun. Kegagalan beruntun ini jelas bukan hal sepele, dan dampaknya langsung terasa hingga ke level paling atas.
Tak cuma Gattuso yang pergi. Presiden FIGC, Gabriele Gravina, memilih mundur. Gianluigi Buffon, sang legenda yang menjabat kepala delegasi, juga ikut mengundurkan diri. FIGC lewat pernyataannya masih sempat mengucapkan terima kasih atas dedikasi Gattuso dan stafnya selama sembilan bulan terakhir.
Gattuso mulai menukangi Italia pada Juni 2025, menggantikan Luciano Spalletti. Debutnya terbilang gemilang, dengan kemenangan telak 5-0 atas Estonia di September lalu. Sayangnya, awal yang manis itu tak bisa dipertahankan. Target utama, yakni tiket ke Piala Dunia, akhirnya tak pernah tergenggam.
Di sisi lain, Gattuso sendiri menyampaikan pesan perpisahan yang cukup emosional.
“Dengan hati yang berat, setelah gagal mencapai tujuan yang kami tetapkan, saya menganggap pengalaman saya sebagai pelatih tim nasional telah berakhir,” ujarnya.
Bagi Gattuso, seragam kebangsaan itu punya nilai yang luar biasa. Itulah sebabnya, menurutnya, mundur adalah langkah terbaik untuk mempermudah proses evaluasi ke depannya.
“Seragam Azzurri adalah hal paling berharga dalam sepak bola. Karena itu, sudah tepat untuk mempermudah evaluasi teknis ke depan,” katanya lagi.
Dia pun berterima kasih pada Gravina, Buffon, dan seluruh staf federasi. Tak lupa, apresiasi tinggi ditujukan kepada para pemain yang dinilainya punya komitmen luar biasa. Namun, ucapan terbesarnya adalah untuk para pendukung.
“Terima kasih terbesar saya untuk para penggemar, untuk seluruh masyarakat Italia yang dalam beberapa bulan terakhir selalu menunjukkan cinta dan dukungan. Selalu dengan warna biru di hati saya.”
Kini, Italia menghadapi masa depan yang suram. Dua laga uji coba di Juni 2026 sudah menanti. Tapi, siapa yang akan melatih? Kemungkinan besar, posisi itu akan tetap kosong untuk sementara. Soalnya, pemilihan presiden FIGC yang baru pun rencananya baru digelar pada bulan itu. Situasinya benar-benar tak menentu.
Artikel Terkait
Bayern Munich Kalahkan Stuttgart 3-0 di Final DFB-Pokal, Harry Kane Cetak Hattrick
Kisah Sabina Altynbekova: Dari Cuci Baju Manual di Asrama Hingga Jadi Bintang Voli Dunia
Tony Gunawan, Satu-Satunya Pebulu Tangkis yang Juara Dunia untuk Dua Negara Berbeda
Aleix Espargaro Puji Peran Alberto Puig di HRC: Sosok Pembela Pembalap yang Tetap Jadi Figur Sentral