Kisah Sabina Altynbekova: Dari Cuci Baju Manual di Asrama Hingga Jadi Bintang Voli Dunia

- Minggu, 24 Mei 2026 | 04:25 WIB
Kisah Sabina Altynbekova: Dari Cuci Baju Manual di Asrama Hingga Jadi Bintang Voli Dunia

Di balik paras menawan yang pernah mengguncang jagat maya, atlet voli asal Kazakhstan, Sabina Altynbekova, menyimpan kisah masa lalu yang jauh dari gemerlap. Perjalanan hidupnya hingga menjadi salah satu bintang voli dunia ternyata ditempa oleh keterbatasan dan kerja keras yang ia jalani sejak remaja. Melalui unggahan di akun Instagram pribadinya, Sabina membagikan cerita tentang masa-masa sulit yang jarang diketahui publik.

Saat anak-anak seusianya menikmati pesta dan pergaulan, Sabina justru memilih hidup tenang di dalam asrama. Bagi pevoli berusia 29 tahun itu, kebahagiaan sederhana seperti menyantap makanan lezat dan beristirahat dengan nyaman di kamar sudah terasa luar biasa. Kemandirian yang ekstrem menjadi fondasi utama dalam membentuk karakter dan popularitasnya saat ini.

Selama tinggal di asrama atlet, Sabina harus mencuci seluruh pakaiannya secara manual karena tidak ada mesin cuci. Ketika teman-teman sekamarnya memilih pulang ke rumah kerabat untuk mencari kenyamanan, ia justru bertahan tanpa sekalipun mengeluh. “Sementara teman-teman sebayaku berjalan-jalan dan bersenang-senang, saya bekerja keras. Apakah saya juga ingin bersenang-senang? Tidak. Cukup bagi saya untuk makan makanan enak dan menonton film di asrama,” tulis Sabina di Instagram pribadinya.

Keterbatasan ekonomi juga mendorongnya untuk kreatif dalam mencari hiburan. Ia kerap meminjam laptop milik rekannya hanya untuk menonton film yang sama secara berulang-ulang, lantaran belum ada akses internet untuk streaming. Di waktu senggang, Sabina juga gemar membaca buku-buku bertema psikologi sebagai pengisi kegiatan.

Kehidupan Sabina mulai berubah drastis ketika ia menginjak usia 24 tahun, tepatnya setelah menikah dengan seorang pengusaha kaya bernama Sayat Salmanuly. Melalui sang suami, ia diperkenalkan dengan sisi glamor kota Almaty dan berbagai restoran mewah. Namun, kemewahan itu tidak lantas mengubah prinsip hidup dan kesederhanaan yang telah tertanam sejak remaja.

“Ketika saya menikah, saya diperlihatkan restoran-restoran mewah di Almaty, saya tidak pernah pergi ke klub malam sampai hari ini, dan saya tidak melihat ada gunanya. Itu adalah pilihan sadar saya, untuk menghabiskan waktu saya dengan bermanfaat, dan berkat pilihan saya, saya sekarang berada di tempat saya sekarang,” sambungnya.

Hingga kini, Sabina menegaskan bahwa dirinya belum pernah sekalipun menginjakkan kaki di kelab malam karena menganggap aktivitas tersebut sia-sia. Sayangnya, rumah tangganya dengan Sayat harus kandas dan berakhir dengan perceraian pada tahun 2025 lalu. Meski kini berstatus sebagai orangtua tunggal bagi satu anak, Sabina memilih menatap masa depan dengan bekal kedisiplinan dan mental baja yang ia peroleh dari dinginnya lantai asrama di masa lalu.

Editor: Yuliana Sari

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar