Catatan musim ini memperkuat argumen itu. Arham cuma sekali turun, itu pun di laga perdana melawan Persijap Jepara. Durasi 62 menit, lalu hilang lagi. Selebihnya, pemain asal Palopo itu lebih akrab dengan kursi cadangan.
Kalau mundur ke musim 2024/2025, itu adalah periode terbaiknya sejauh ini. Arham tampil di 10 pertandingan, gabungan dari liga dan piala. Tapi ya itu, dari semua kesempatan itu, angka gol atau assist nihil. Hasil yang cukup membuat frustrasi.
Nah, kepergian Arham ini seolah melanjutkan tren. Dalam beberapa musim terakhir, daftar pemain muda dan lokal yang dilepas PSM jadi makin panjang. Di sisi lain, kedatangan pemain lokal siap pakai? Jujur saja, hampir tak terdengar gaungnya.
Fenomena ini lambat laun bikin suporter resah. Lihat saja, di tengah persaingan Super League yang makin sengit, klub-klub lain sibuk mengais pemain lokal berpengalaman. Sementara PSM, seperti masih fokus pada evaluasi dan skema peminjaman. Ada apa sebenarnya?
Buat Persipal Palu, tentu ini kabar baik. Kehadiran Arham diharapkan bisa menyuntikkan energi baru untuk serangan Laskar Tadulako di Liga 2. Tapi buat PSM, situasinya jadi terasa ironis. Sibuk melepas, tapi belum tampak keseriusan untuk mendatangkan pengganti yang setara terutama dari kalangan pemain lokal yang jadi tulang punggung. Menunggu memang melelahkan, tapi itulah yang harus dilakukan suporter setia Ayam Jantan dari Timur untuk sekarang.
Artikel Terkait
Mbappe Siap Pimpin Madrid Bangkit dari Duka
Glasner Buka Suara: Keputusan Hengkang dari Crystal Palace Sudah Bulat
PSIS Semarang Gempur Bursa Transfer, Empat Pemain Lokal Dilepas
Fajar/Fikri Tak Puas Hanya Jadi Raja Runner-up