Manchester - Awal yang manis. Itulah yang dirasakan Michael Carrick di periode keduanya memegang kendali Manchester United. Sebagai manajer interim, catatannya fantastis: enam menang dan sekali imbang dari tujuh laga pertama. Suasana di sekitar klub pun terasa lebih ringan.
Namun begitu, Carrick sendiri tak mau larut dalam euforia. Pria asal Inggris itu justru bersikap sangat realistis. Ia paham betul, dalam sepak bola, roda terus berputar. Kekalahan atau masa sulit pasti akan datang, itu hanya soal waktu.
“Pada titik tertentu, ia tahu kekalahan atau penurunan performa pasti akan datang,” begitu kira-kira isi pikirannya. Tantangan sebenarnya, menurut Carrick, adalah mencegah satu kekalahan berubah menjadi tren buruk yang berkepanjangan. Itu kuncinya.
Sejarah, memang, punya cerita serupa. Ambil contoh Ole Gunnar Solskjaer. Diawali dengan gemilang delapan kemenangan beruntun saat pertama menukangi MU di 2018, musim itu justru ditutup dengan pil pahit: delapan kekalahan dalam 12 pertandingan terakhir. Naik turunnya memang drastis.
Pengalaman Carrick sendiri saat menangani Middlesbrough juga memberi pelajaran. Awal yang luar biasa, 15 kemenangan dari 21 laga. Tapi semua itu seakan menguap di akhir, saat Boro cuma menang dua kali dalam sepuluh pertandingan dan gagal promosi lewat babak play-off.
Jadi, meski awal yang ia torehkan di Old Trafford kali ini begitu memukau, Carrick tampaknya memilih untuk menatap ke depan dengan kaki tetap menapak tanah. Fase sulit akan tiba, dan bagaimana ia menyikapinyalah yang nanti menentukan.
Artikel Terkait
Asuransi Astra Gelar Kompetisi Literasi Keuangan untuk Mahasiswa, Siapkan Hadiah Rp70 Juta
TNI Bantah Kabar Penggusuran SD di Ende untuk Pembangunan Koperasi Desa Merah Putih
Venus dan Jupiter Tampak Saling Berdekatan Malam Ini, Fenomena Konjungsi Langka Terjadi
Presiden Prabowo Terima Surat Kepercayaan dari Sembilan Dubes di Istana