Utusan Khusus Presiden untuk Iklim dan Energi, Hashim Djojohadikusumo, baru-baru ini membongkar cerita di balik program andalan Prabowo Subianto: Makan Bergizi Gratis. Menurutnya, ide ini bukan sekadar janji kampanye yang muncul tiba-tiba. Gagasan itu justru berakar dari keprihatinan Prabowo yang sudah mengendap selama dua dekade.
Hashim bercerita tentang sebuah momen di tahun 2006. Saat itu, Prabowo yang belum mendirikan Partai Gerindra sudah gelisah memikirkan masa depan bangsa. Pemicunya adalah data stunting yang begitu tinggi.
“Stunting ini yang menyebabkan Prabowo Subianto pada 2006 mencetuskan ide untuk program MBG ini,” ujar Hashim dalam sebuah pertemuan dengan Dewan Pimpinan Pusat ABPEDNAS.
“Ini 2006, berarti 19 tahun lalu, 20 tahun lalu. Waktu itu belum ada partai, belum ada imajinasi untuk mendirikan partai,” tambahnya.
Angkanya cukup mencengangkan. Data Kemenkes kala itu menunjukkan sekitar 30 persen anak Indonesia mengalami stunting. Bagi Prabowo, ini bukan cuma statistik. Ini ancaman nyata bagi kualitas sumber daya manusia kita di masa depan.
Hashim mengingat percakapan serius mereka.
“Sewaktu itu Prabowo bilang ke saya, kalau ini tidak ditanggulangi, bayangkan 20 tahun kemudian. Tiga puluh persen angkatan kerja Indonesia adalah orang-orang yang pernah menderita stunting,” kenangnya.
Dampaknya, jelas Hashim, jauh melampaui fisik. Kapasitas intelektual turut terdampak. Ia memaparkan, rata-rata IQ penyintas stunting berada di angka 72. Bandingkan dengan rata-rata manusia normal yang sekitar 100. Jaraknya cukup signifikan.
“Sekarang, 20 tahun dari 2006, jangan-jangan 30 persen pekerja kita di desa, pabrik, atau kota mengalami kondisi itu,” ucap adik kandung Presiden tersebut dengan nada prihatin.
Maka dari itu, program MBG dianggapnya sebagai langkah strategis. Tujuannya jelas: memutus mata rantai stunting dan membuka peluang bagi generasi mendatang untuk tumbuh lebih cerdas.
Namun begitu, pelaksanaannya di lapangan tak lepas dari tantangan teknis. Hashim mengakuinya. Yang disesalkannya justru adalah serangan terhadap program ini, yang dinilainya sering dibumbui fitnah dan informasi menyesatkan.
“MBG adalah program utama Presiden Prabowo dan Wapres Gibran. Tapi lihat, program ini banyak diserang kelompok tertentu dengan hoaks dan kebohongan. Kita harus tetap menanggapi aspirasi rakyat yang tulus,” tegas Hashim.
Baginya, program ini adalah wujud komitmen lama yang kini diwujudkan. Sebuah jawaban atas kegelisahan dua puluh tahun yang lalu.
Artikel Terkait
Wakil Ketua KPK Ungkap Pola Pencucian Uang Koruptor ke Perempuan Bening-Bening
Gubernur DKI: WFH Jumat untuk ASN Terbukti Efektif Kurangi Kemacetan
Presiden Prabowo Sidak Gudang Bulog Magelang, Pastikan Stok Beras 7.000 Ton Aman
Pertamina Naikkan Harga LPG Non-Subsidi, Tertinggi Capai Rp285 Ribu per Tabung 12 Kg