Trump Ultimatum Iran, AS Kirim Negosiator ke Pakistan untuk Putaran Kedua

- Minggu, 19 April 2026 | 21:35 WIB
Trump Ultimatum Iran, AS Kirim Negosiator ke Pakistan untuk Putaran Kedua

Percakapan telepon penting terjadi antara dua menteri luar negeri, Iran dan Pakistan, Minggu lalu. Topiknya? Situasi panas di kawasan, terutama menyangkut perang yang melibatkan AS dan Israel dengan Iran. Menlu Iran Abbas Araghchi dan koleganya dari Pakistan, Mohammad Ishaq Dar, dikabarkan saling bertukar pandangan soal perkembangan terbaru.

Menurut laporan dari kantor berita Tasnim di Iran, pembicaraan itu juga menyentuh hubungan bilateral kedua negara. Ini menunjukkan bahwa dinamika regional yang tegang turut mempengaruhi percakapan rutin antarnegara tetangga.

Di sisi lain, dari Washington muncul pernyataan yang cukup menggemparkan. Presiden AS Donald Trump lewat sebuah unggahan di media sosial mengumumkan bahwa negosiator Amerika akan kembali ke Pakistan pada hari Senin. Tujuannya untuk putaran kedua perundingan damai dengan Iran.

Sayangnya, Trump tak menyebut secara spesifik siapa saja yang akan dikirim. Padahal, putaran pertama yang dipimpin Wakil Presiden JD Vance baru saja gagal mencapai kata sepakat.

“Kami menawarkan kesepakatan yang sangat adil dan masuk akal, dan saya harap mereka menerimanya karena, jika tidak, Amerika Serikat akan menghancurkan setiap pembangkit listrik, dan setiap jembatan di Iran,”

Itulah ancaman keras Trump dalam unggahan yang sama. Dia menuduh Iran melanggar gencatan senjata dengan menembakkan peluru di Selat Hormuz pada Sabtu. Gencatan itu sendiri sebenarnya masih berlaku hingga Rabu.

Ancaman itu bukan omong kosong belaka. Dalam wawancara dengan Fox News, Trump menyebut ini adalah "kesempatan terakhir" bagi Iran. Iming-imingnya kesepakatan damai, konsekuensinya jika ditolak adalah kehancuran infrastruktur sipil.

Jadi, sementara dua negara di kawasan itu berdiskusi lewat telepon, tekanan dari Washington justru semakin mengeras. Situasinya mencekam, dan dunia menunggu apa yang akan terjadi di Islamabad pada hari Senin.

Editor: Melati Kusuma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar