Akademisi dan Mahasiswa Apresiasi Stok Beras Melimpah di Gudang Bulog Sidoarjo

- Minggu, 19 April 2026 | 23:15 WIB
Akademisi dan Mahasiswa Apresiasi Stok Beras Melimpah di Gudang Bulog Sidoarjo

Oleh: Lidya Thalia.S


Sidoarjo – Kunjungan ke gudang Bulog di Sidoarjo bersama Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman ternyata membawa angin segar. Bukan cuma soal angka stok, tapi juga soal optimisme. Dan optimisme itu datang dari kalangan kampus.

Nuning Roadiah, Ketua Pusat Studi SDGs Universitas Muhammadiyah Sidoarjo, terkesan dengan apa yang dia lihat. Gudang beras yang penuh sesak, ditambah lalu lalang truk pengangkut yang tak putus-putusnya, baginya adalah pertanda bagus. “Stoknya melimpah sekali di gudang Bulog ini,” katanya, Minggu (19/4/2026). “Ini bikin kami yakin, program swasembada pangan memang jalan, bukan sekadar wacana.”

Menurut Nuning, aktivitas logistik yang sibuk itu punya arti penting. Itu menunjukkan tingginya penyerapan hasil panen dari petani. Di sisi lain, dia juga mencatat dampak lain yang lebih langsung dirasakan orang kecil.

“Yang jelas, ada efek positif buat petani. Harga gabah sekarang lebih baik, lebih menguntungkan ketimbang dulu,” tambahnya.

Apresiasi serupa, dengan nada yang lebih tegas, datang dari mahasiswa. Muhammad Siril Aufa, Presiden Badan Eksekutif Mahasiswa Politeknik Pembangunan Pertanian Malang, punya pandangan yang dalam. Baginya, swasembada pangan ini bukan cuma program pemerintah biasa.

“Ini soal kedaulatan. Simbol kemandirian bangsa,” ujar Siril. “Ini jadi nilai perjuangan yang harus kita jaga bersama. Kami, mahasiswa, termasuk di dalamnya.”

Capainya stok beras nasional saat ini, di matanya, adalah bukti nyata bahwa kolaborasi antara pemerintah dan petani bisa berbuah manis.

Lalu, bagaimana peran anak muda konkretnya? Danang Pramudya, mahasiswa Polbangtan Malang, punya cerita. Dia dan rekan-rekannya tidak cuma belajar di kelas. Mereka diterjunkan langsung.

“Kami turun ke lapangan, jadi pendamping petani. Daerah seperti Sumatera Selatan dan Kalimantan Tengah sudah kami jalani,” tutur Danang. Keterlibatan mereka ini bagian dari brigade pangan, upaya nyata mendukung swasembada dari garis paling depan.

Jadi, kunjungan singkat itu seperti menyatukan puzzle. Pemerintah, akademisi, dan generasi muda. Sinergi tiga pilar ini rupanya kunci utamanya. Untuk ketahanan pangan, dan yang lebih penting lagi, untuk kedaulatan yang berkelanjutan. Sebuah kerja yang belum selesai, tapi langkah awalnya terasa semakin mantap.


Editor: Redaksi

Editor: Redaksi MuriaNetwork

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar