Megawati Sampaikan Belasungkawa atas Wafatnya Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei

- Rabu, 04 Maret 2026 | 05:15 WIB
Megawati Sampaikan Belasungkawa atas Wafatnya Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei

Jakarta diguncang kabar duka dari Timur Tengah. Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, meninggal dunia. Menanggapi hal itu, Ketua Umum PDI Perjuangan, Megawati Soekarnoputri, pun mengirimkan surat belasungkawa. Surat itu tidak dikirim via kurir biasa, melainkan diantarkan langsung oleh dua petinggi partai ke Kedutaan Besar Iran di Jakarta, Selasa (3/3/2026) sore.

Sekjen DPP PDIP Hasto Kristiyanto dan Ketua DPP Bidang Luar Negeri Ahmad Basarah yang menyerahkan langsung surat tersebut kepada Dubes Iran, Mohammad Boroujerdi. Menurut Hasto, sikap ini adalah wujud nyata dari pelaksanaan ideologi Pancasila di kancah global.

“PDI Perjuangan berpikir, bersikap dan bertindak dengan menjalankan Ideologi Pancasila,” ujar Hasto dalam keterangan tertulisnya, Rabu (4/3).

Dia menambahkan, sikap itu pula yang mendasari Ibu Megawati menyampaikan duka citanya. “Pembukaan UUD 1945 menegaskan bahwa kemerdekaan adalah hak segala bangsa. Penjajahan di atas dunia harus dihapuskan. Sikap itulah yang menjadi doktrin politik luar negeri bebas-aktif kita,” tegasnya.

Isi Surat Megawati

Surat yang ditandatangani Megawati itu bernada personal sekaligus politis. Dibuka dengan ungkapan duka yang mendalam, Megawati menyebut kabar wafatnya Khamenei sebagai sesuatu yang mengejutkan.

“Dengan hati terkejut dan sangat berduka, saya Prof. Dr. Megawati Soekarnoputri selaku Presiden ke-5 Republik Indonesia, dan mewakili keluarga besar Dr. (H.C) Ir. Soekarno (Bung Karno), sekaligus sebagai Ketua Umum PDI Perjuangan, menyampaikan belasungkawa yang mendalam atas wafatnya Yang Mulia Ayatullah Ali Khamenei, Pemimpin Tertinggi Republik Islam Iran, yang gugur dalam serangan militer mendadak yang dilancarkan oleh Israel dan Amerika Serikat terhadap wilayah Iran pada 28 Februari 2026.”

Megawati memuji konsistensi Khamenei memimpin di tengah tekanan geopolitik yang berat. “Selama lebih dari tiga dekade, beliau memimpin bangsanya dalam situasi yang sangat sulit,” tulisnya. Baginya, Khamenei adalah negarawan yang berhasil memadukan iman, keadilan sosial, dan sikap anti-imperialisme.

Yang menarik, surat ini menyoroti kedekatan batin antara Khamenei dan Bung Karno. Megawati mengungkapkan, sejak muda, Khamenei dikenal mengagumi pemikiran Proklamator Indonesia itu. Bahkan, Pancasila dan semangat Konferensi Asia-Afrika di Bandung disebut menjadi referensi bagi sang Ayatullah.

“Dalam diri beliau, kami melihat seorang ulama dan negarawan yang berupaya memadukan iman keagamaan, keadilan sosial, dan sikap anti-imperialisme dalam satu garis perjuangan yang konsisten,” tulis Megawati.

Nuansa personal semakin kuat ketika Megawati mengenang kunjungannya ke Teheran pada 2004. Saat itu, sebagai Presiden, dia bertemu langsung dengan Khamenei. “Saya merasakan sambutan persahabatan yang hangat,” kenangnya. Dia bahkan sempat mengundang Khamenei untuk datang ke Indonesia, sayangnya tidak pernah terwujud.

Di sisi lain, surat ini juga tegas menyuarakan sikap politik. Megawati mengecam keras agresi militer yang menewaskan Khamenei. “Bangsa Indonesia berdiri bersama rakyat Iran dalam menolak dan mengecam keras segala bentuk agresi militer sepihak,” tegasnya. Menurutnya, penyelesaian konflik harus melalui dialog dan hukum internasional, bukan kekerasan.

Surat yang cukup panjang itu ditutup dengan doa. Megawati berharap rakyat Iran diberi kekuatan dan kebijaksanaan melewati masa sulit ini. “Semoga persahabatan antara bangsa Indonesia dan bangsa Iran tetap terpelihara,” harapnya.

Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto menyerahkan surat duka dari Ketum PDIP Megawati Soekarnoputri atas wafatnya Ayatollah Ali Khamenei kepada Dubes Iran untuk RI, Mohammad Boroujerdi. Foto: Istimewa.

Editor: Raditya Aulia

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar