Seiring waktu, Widia sadar dampaknya lebih dalam. Anggoro belajar lebih dari sekadar membidik.
"Memang pada dasarnya Anggoro itu, tanda kutip ya, dia ada kebutuhan khusus. Kebutuhan khusus dalam arti dia sulit fokus. Kemudian dia itu dulunya "speed delay". Dan harus terapi, bicara, okupasi, "sensory", integrasi, dan sebagainya," ungkap Widia.
Saat mulai panahan, masa terapi sebenarnya sudah selesai. Tapi bagi Widia, aktivitas di lapangan itu seperti kelanjutan alami dari proses penyembuhan. Anggoro anak kinestetik, punya energi melimpah. Panahan justru menuntut hal sebaliknya: ketenangan, kontrol penuh, dan kesabaran.
"Tapi ketika di panahan, dia bisa diam. Patuh dalam mengikuti sesi-sesi latihan sampai selesai," katanya, masih terkesan.
Tahun pertama, Widia sengaja tak memberi beban. Anggoro dibebaskan menikmati panahan sesukanya. "Jadi di situ terserah, dia mau main, mau apa, itu saya bebaskan."
Setelah satu tahun, pendekatannya berubah. Ketika panahan sudah jadi pilihan hati Anggoro sendiri, ibunya mulai menanamkan rasa tanggung jawab.
"Satu tahun pertama, saya bebasin. Tapi setelah itu, saya mulai ketat. Jadi ketika ini pilihan dia, ya lu harus jalanin. Seperti itu. Dengan berbagai resikonya," tegas Widia.
Proses itulah yang mengubah panahan dari sekadar hobi. Ia menjadi bagian penting dari hidup Anggoro. Dan di ajang MilkLife Archery Challenge KEJURNAS Antar Club 2025 ini, perjalanan itu membuahkan hasil: sebuah medali perunggu di Divisi Compound U-18 Beregu. Sebuah pencapaian, yang dimulai dari sebuah wahana wisata dan ketenangan yang ditemukan di ujung anak panah.
Artikel Terkait
Kandang yang Kehilangan Aura: PSM Makassar Tersesat di Gelora BJ Habibie
Ivar Jenner Pilih Dewa United, Harapan Persija Pupus
Persija Kecolongan, Ivar Jenner Pilih Berlabuh ke Dewa United
PSM Makassar Terjebak Krisis Gol, Trucha Akui Serangan Tumpul