Dokumen Bocor Ungkap Upaya Epstein Dekati Putin Lewat Jaringan Tingkat Tinggi

- Selasa, 03 Februari 2026 | 14:50 WIB
Dokumen Bocor Ungkap Upaya Epstein Dekati Putin Lewat Jaringan Tingkat Tinggi

Dokumen Bocor: Jeffrey Epstein Ternyata Gencar Ingin Dekati Putin

Kasus Jeffrey Epstein memang tak pernah habis kejutan. Baru-baru ini, Departemen Kehakiman AS merilis setumpuk dokumen baru. Dan isinya? Bikin mengernyit. Ternyata, jauh di balik skandal kejahatan seksualnya, si terpidana itu mati-matian berusaha mendekati Vladimir Putin.

Arsip yang dibuka ke publik pada Jumat lalu itu mengungkap satu fakta menarik. Selama bertahun-tahun, bahkan setelah vonis pertamanya, Epstein terus mencoba mengatur pertemuan dengan pemimpin Rusia itu. Entah itu pernah terjadi atau tidak, masih jadi tanda tanya besar.

Nama Putin Muncul Ribuan Kali

Yang jelas, nama Putin disebut-sebut sampai lebih dari seribu kali dalam berkas tersebut. Jumlahnya tepatnya 1.055 kali. Angka itu tercatat di antara lebih dari tiga juta halaman dokumen yang kini bisa diakses.

Memang, banyak penyebutannya cuma lewat buletin media yang masuk ke inbox email Epstein. Tapi, ada juga serangkaian percakapan yang menunjukkan usahanya lebih dari sekadar membaca berita. Dia aktif memanfaatkan jaringan kenalannya, mencoba mencari celah untuk bisa bertatap muka langsung dengan sang presiden.

Upaya ini, menurut catatan, berlangsung dari sekitar 2013 hingga 2018. Hanya setahun sebelum pria itu ditemukan tewas di sel penjaranya.

Namun begitu, sejauh ini belum ada bukti konkret bahwa pertemuan itu benar-benar terwujud. Putin sendiri sudah jadi sosok paling berkuasa di Rusia sejak awal milenium, baik sebagai presiden maupun perdana menteri.

Visa Rusia dan Kenalan Dekat

Ceritanya ternyata lebih lama lagi. Dari dokumen terlihat, Epstein sudah kepikiran soal visa Rusia sejak 2010. Dalam satu pesan, dia terlihat bertanya-tanya, “Saya perlu urus visa nggak, ya? Saya punya kenalan yang dekat banget sama Putin. Harusnya saya minta tolong dia, nih?”

Lalu di Agustus 2011, dia bilang ke seorang pengusaha dari Uni Emirat Arab bahwa Putin mungkin akan datang ke Amerika. Epstein lebih memilih ketemu di sana. Alasannya sederhana: kemungkinan ketemu di Sochi, katanya, terlalu kecil.

Melibatkan Mantan PM Norwegia

Jalur yang dia tempuh pun cukup tinggi. Salah satu kontaknya adalah Thorbjorn Jagland, mantan Perdana Menteri Norwegia yang waktu itu jadi Sekjen Dewan Eropa. Jagland pernah ketemu Putin dalam kapasitas resminya, dan Epstein terus mendorongnya.

Dalam email Mei 2013, Jagland seolah membujuk Epstein untuk maju sendiri. “Kamu harus lakukan ini. Tugas saya cuma mengatur pertemuannya,” tulis Jagland.

“Boleh saya bilang gini ke [Putin]: Saya tahu Anda ingin menarik investor asing buat diversifikasi ekonomi Rusia... Nah, saya punya teman yang bisa bantu ambil langkah-langkahnya. Kalau dia tertarik ketemu, saya bisa perkenalkan.”

Bisik-bisik Soal Trump dan Mata Uang Digital

Epstein kayaknya nggak pernah kapok. Tahun 2016, dia tanya lagi ke Jagland kapan bisa ketemu Putin. Setahun kemudian, dia minta Jagland ngobrolin soal mata uang digital dengan sang pemimpin.

Di Juni 2018, desakannya makin jelas. “Saya akan sangat senang kalau bisa ketemu Putin,” tulisnya dalam email.

Hanya empat hari berselang, dia coba sampaikan pesan untuk diplomat Rusia lewat Jagland. Isinya agak samar.

“Saya rasa, Anda bisa sampaikan ke Putin bahwa Lavrov bisa dapat ‘informasi’ kalau mau bicara sama saya.”

Dalam korespondensi lain, Epstein mengaitkan pembicaraan semacam ini dengan pemahamannya tentang Donald Trump. Lavrov yang dimaksud kemungkinan adalah Menteri Luar Negeri Rusia, Sergey Lavrov.

Dia bahkan menyebut nama Vitaly Churkin, duta besar Rusia untuk PBB yang sudah meninggal. “Churkin dulu melakukan itu,” tulisnya.

Ketika Jagland bilang akan menyampaikan pesannya ke asisten Lavrov, Epstein balas dengan nada percaya diri.

“Churkin itu hebat. Dia langsung paham Trump setelah ngobrol sama saya. Sebenarnya nggak rumit. Dia cuma perlu terlihat dapat sesuatu sesederhana itu.”

Email Misterius dengan “Sang Adipati”

Dokumen ini juga membeberkan percakapan aneh tahun 2010. Epstein berkirim email dengan akun bernama “The Duke”.

Isinya, dia mengatur makan malam antara Pangeran Andrew dengan seorang perempuan Rusia berusia 26 tahun yang disebutnya “cantik”.

“Saya punya teman, kayaknya Anda bakal senang makan malam dengannya,” tulis Epstein membuka pembicaraan.

“The Duke” membalas singkat, “Boleh. Saya di Jenewa sampai tanggal 22 pagi, tapi senang ketemu dia. Apa dia bawa pesan dari kamu? Kasih aja kontak saya biar dia bisa hubungin.”

Saar ditanya detail lebih lanjut soal perempuan itu, Epstein cuma menjawab ringkas.

“Usianya 26, orang Rusia, pintar, cantik, bisa dipercaya. Dan iya, dia sudah punya email Anda.”

Semua dokumen ini seperti potongan puzzle yang masih acak. Mereka menambah dimensi baru pada sosok Epstein, bukan hanya sebagai predator, tapi juga sebagai jaringan yang menjulur jauh ke lingkaran kekuasaan global. Pertanyaannya sekarang: sejauh apa jangkauannya, dan siapa lagi yang terlibat dalam permainannya?

Editor: Hendra Wijaya

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar