Kritik PBNU: Respons Dahnil Dinilai Abaikan Etika Pejabat Publik

- Selasa, 03 Februari 2026 | 00:25 WIB
Kritik PBNU: Respons Dahnil Dinilai Abaikan Etika Pejabat Publik

Respons Wakil Menteri Haji dan Umrah, Dahnil Anzar Simanjuntak, terhadap kritik dari Wakil Ketua Umum MUI KH Anwar Abbas, ramai diperbincangkan. Banyak yang menilai ucapannya melenceng dari etika seorang pejabat publik. Sorotan ini datang dari berbagai kalangan, tak terkecuali dari internal Nahdlatul Ulama.

Katib Syuriyah PBNU, KH Ikhsan Abdullah, secara khusus menyayangkan diksi yang dipilih Dahnil. Menurutnya, nada yang digunakan terkesan merendahkan, padahal yang dikritik adalah seorang kiai sepuh. Persoalannya bermula dari komentar Anwar Abbas soal kebijakan pemerintah yang memangkas perusahaan penyedia layanan haji dari delapan menjadi hanya dua.

“Pembinaan adab dan akhlak wajib menjadi prioritas pembinaan pada masa Pemerintahan Presiden Prabowo Subianto,”

tegas KH Ikhsan kepada wartawan, Sabtu lalu.

Ia merasa prihatin. Dalam pandangannya, masalah adab di ruang publik terutama di kalangan pejabat sudah jadi persoalan serius belakangan ini. Bahkan, Indonesia dinilai tertinggal soal etika komunikasi dibanding negara-negara maju. “Bagaimana mereka memperlakukan alam dengan bijak, menjaga lingkungan dan kebersihan, termasuk menjaga adab dan akhlak dalam berbicara di ruang publik dan media sosial,” ujarnya menerangkan.

Sebagai founder Indonesia Halal Watch, Ikhsan menekankan betapa pentingnya keteladanan. Gaya bicara dan pilihan kata seorang pejabat, menurutnya, sangat mempengaruhi sikap masyarakat luas. Ia mengingatkan pepatah lama: bangsa yang maju adalah bangsa yang menjunjung tinggi etika dan moral.

“Hendaklah memilih tutur kata dan bahasa yang baik dan santun,”

imbuhnya.

Sebenarnya, banyak sekali pilihan diksi yang lebih tepat untuk menyampaikan pendapat di ruang publik. Bahasa yang digunakan, lanjutnya, semestinya memberi semangat, bukan malah melukai atau menggurui. “Masyarakat, pejabat, dan publik figur saat ini perlu mencontoh teladan dari para ulama,” tutur KH Ikhsan.

Lantas, apa yang sebenarnya diucapkan Dahnil? Dalam sebuah forum, ia menanggapi kekhawatiran Anwar Abbas dengan menyebut “cangkemnya” dan menyatakan sang kiai dinilai tidak paham persoalan haji. Reaksi pun berdatangan. Banyak yang kecewa karena respons itu dianggap tidak menjawab substansi kritik sama sekali.

Padahal, inti peringatan Anwar Abbas cukup jelas: menyerahkan layanan haji untuk ratusan ribu jemaah hanya pada dua perusahaan berisiko. Tujuannya agar kualitas layanan bisa lebih terjaga dan risiko diminimalisir.

Alih-alih memberi penjelasan yang runut, tanggapan Dahnil justru dinilai sarkastik dan negatif. Tak heran, hal itu memicu kecaman dari berbagai tokoh, terutama dari organisasi keagamaan.

Hingga saat ini, belum ada klarifikasi resmi dari Dahnil Anzar Simanjuntak mengenai kritik yang mengarah padanya. Pemerintah juga masih belum memberikan sikap resmi atas polemik yang terus bergulir ini.

Editor: Novita Rachma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar