Tak cuma laba, nilai piutang pembiayaan yang dikelola atau managed loan receivables juga ikut membesar, mencapai Rp2,5 triliun.
Namun begitu, yang menarik justru di balik pertumbuhan yang pesat itu. Perry menekankan bahwa kualitas portofolio mereka tetap terjaga. Meski penyaluran dan transaksi naik signifikan, indikator rasio pembiayaan bermasalah (Non-Performing Financing) net justru berhasil ditekan. Angkanya terjaga di level yang sangat sehat, hanya 1,1 persen.
Di sisi lain, struktur keuangan perusahaan juga tampak solid. Rasio utang terhadap ekuitas mereka tercatat stabil dan masih tergolong rendah, yaitu sekitar 2 kali. Kombinasi yang ideal antara pertumbuhan agresif dan fundamental yang kuat.
“Jadi di tahun 2025 adalah basically tahun di mana kami dapat tumbuh secara sehat, berkelanjutan dengan praktek manajemen risiko yang konservatif,” imbuhnya menutup pembicaraan.
Secara keseluruhan, laporan dari Akulaku Finance ini menggambarkan sebuah pencapaian yang berusaha seimbang. Tumbuh cepat, tapi tetap berusaha menjaga agar tidak terjebak dalam masalah kredit macet. Sebuah tantangan yang tidak mudah di industri pembiayaan digital yang kompetitif.
Artikel Terkait
Kemensos Salurkan Bantuan Rp543 Miliar untuk Korban Banjir Sumatera
Menkominfo Sidak ke Kantor Meta, Desak Kepatuhan Atasi Kejahatan Digital
Kinerja Anak Perusahaan BRI Melonjak, Aset Tembus Rp267 Triliun
Hetifah Sjaifudian Soroti Dua Kasus di Undip: Dugaan Pelecehan Seksual dan Pengeroyokan Harus Diinvestigasi Terpisah