Lonjakan Harga Cabai Rawit Picu Inflasi di 230 Daerah pada Februari 2026

- Senin, 23 Februari 2026 | 12:45 WIB
Lonjakan Harga Cabai Rawit Picu Inflasi di 230 Daerah pada Februari 2026

Kendala Pasokan Menjelang Ramadan

Pemerintah mengidentifikasi hambatan pada rantai pasokan sebagai akar masalah. Meski panen telah dimulai di 21 kabupaten dan kota, distribusi ke pasar nasional belum berjalan optimal. Direktur Sayuran dan Tanaman Obat Kementerian Pertanian, Agung Sunusi, mengungkapkan kendala unik di sentra produksi seperti Lombok Timur, NTB.

Di sana, faktor sosiokultural menjelang bulan suci Ramadan sempat menghentikan aktivitas panen. "Ada permasalahan historikal di sana, di mana tiga hari sebelum puasa tidak ada aktivitas pemetikan," jelas Agung.

Namun, pihaknya memproyeksikan aktivitas pasokan akan kembali normal dalam satu pekan setelah Ramadan dimulai, seiring dengan dimulainya puncak panen raya di beberapa sentra utama.

Upaya Intervensi Pasar

Untuk meredam volatilitas harga, Kementerian Pertanian bersama Badan Pangan Nasional (Bapanas) dan Satgas Pangan telah meluncurkan aksi intervensi. Sejak 19 Februari, mereka melakukan "guyur pasokan" ke Pasar Induk Kramat Jati, Jakarta, yang berperan sebagai barometer harga pangan nasional.

Skema ini melibatkan petani binaan untuk menyuplai cabai langsung ke pasar induk dengan struktur harga terkendali: Rp50.000 per kilogram di tingkat petani, Rp55.000 di pedagang pasar induk, dengan target harga konsumen akhir antara Rp60.000 hingga Rp65.000 per kilogram.

Langkah ini diharapkan dapat memperkuat stok, menekan harga eceran, dan secara bertahap meredakan tekanan inflasi dari komoditas cabai dalam beberapa pekan ke depan.

Editor: Agus Setiawan


Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar