Kendala Pasokan Menjelang Ramadan
Pemerintah mengidentifikasi hambatan pada rantai pasokan sebagai akar masalah. Meski panen telah dimulai di 21 kabupaten dan kota, distribusi ke pasar nasional belum berjalan optimal. Direktur Sayuran dan Tanaman Obat Kementerian Pertanian, Agung Sunusi, mengungkapkan kendala unik di sentra produksi seperti Lombok Timur, NTB.
Di sana, faktor sosiokultural menjelang bulan suci Ramadan sempat menghentikan aktivitas panen. "Ada permasalahan historikal di sana, di mana tiga hari sebelum puasa tidak ada aktivitas pemetikan," jelas Agung.
Namun, pihaknya memproyeksikan aktivitas pasokan akan kembali normal dalam satu pekan setelah Ramadan dimulai, seiring dengan dimulainya puncak panen raya di beberapa sentra utama.
Upaya Intervensi Pasar
Untuk meredam volatilitas harga, Kementerian Pertanian bersama Badan Pangan Nasional (Bapanas) dan Satgas Pangan telah meluncurkan aksi intervensi. Sejak 19 Februari, mereka melakukan "guyur pasokan" ke Pasar Induk Kramat Jati, Jakarta, yang berperan sebagai barometer harga pangan nasional.
Skema ini melibatkan petani binaan untuk menyuplai cabai langsung ke pasar induk dengan struktur harga terkendali: Rp50.000 per kilogram di tingkat petani, Rp55.000 di pedagang pasar induk, dengan target harga konsumen akhir antara Rp60.000 hingga Rp65.000 per kilogram.
Langkah ini diharapkan dapat memperkuat stok, menekan harga eceran, dan secara bertahap meredakan tekanan inflasi dari komoditas cabai dalam beberapa pekan ke depan.
Artikel Terkait
Yusril Tegaskan Kasus Air Keras Aktivis KontraS Tetap di Pengadilan Militer
Pertemuan AS Dijadwalkan, Lebanon dan Israel Bahas Gencatan Senjata
Dua Tewas Setelah Mobil Jatuh ke Jurang 60 Meter di Minahasa Selatan
Menhut Serahkan SK Perhutanan Sosial untuk 1.742 Hektare di Sulawesi Utara